Blog SABDA
10Jun/191

Paskah di YLSA: Nonton Bareng “Paul: The Apostle of Christ”

Shalom, perkenalkan nama saya Andy, staf yang terbilang baru di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) . Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan pengalaman pertama saya merayakan Paskah di YLSA. Pada umumnya, perayaan Paskah diisi dengan ibadah di gereja atau di persekutuan tertentu. YLSA pun merayakan Paskah, tetapi dengan cara yang berbeda. Pada Kamis, 25 April 2019, seluruh staf di YLSA berkumpul di ruang pertemuan Griya SABDA untuk menonton film “Paul The Apostle of Christ”. Dari judulnya, saya membayangkan bahwa kami akan disuguhi dengan kisah-kisah Paulus yang terdapat dalam Alkitab. Saya penasaran, kisah bagian mana yang hendak disoroti dalam film tersebut. Apa hubungannya dengan Paskah?

Adegan pertama diawali dengan kehidupan orang Kristen pada zaman kekaisaran Nero. Mereka mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari tentara-tentara Romawi. Tubuh mereka bahkan dibuat menjadi “lilin hidup” alias dibakar sebagai penerang jalan. Cukup “ngeri” melihat penderitaan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang Kristen mula-mula di Roma. Banyak dari mereka yang ditangkap menjadi martir, tetapi ada juga yang berusaha menyembunyikan diri dari tentara Romawi. Lukas, yang adalah penulis Kisah Para Rasul, menjadi tokoh yang ditampilkan sejak awal cerita. Dia datang ke Roma khusus untuk menemui Paulus yang sedang di penjara dan bergabung dengan komunitas orang Kristen yang menyembunyikan diri.

Selain Paulus, ada beberapa tokoh yang menjadi sorotan. Pertama adalah Akwila dan Priskila, yang menjadi pemimpin komunitas Kristen di Roma. Saya melihat pergumulan mereka dalam mengambil keputusan terkait dengan penganiayaan yang terjadi, apakah lebih baik jika tetap tinggal di Roma atau keluar dari Roma. Priskila sangat mencintai Roma dan ingin tetap tinggal di sana untuk membantu orang-orang Kristen yang mengalami kesulitan, tetapi Akwila ingin meninggalkan Roma supaya bisa hidup lebih tenang dan membuka komunitas-komunitas baru di luar Roma. Pada akhirnya, setelah melihat semakin banyak jemaat yang dikejar-kejar dan yang mati dibunuh, mereka mengambil keputusan untuk meninggalkan Roma.

Tokoh kedua adalah Mauritius. Dia adalah kepala penjara tempat Paulus dan banyak orang Kristen lainnya ditahan. Pada awalnya, dia menganggap Paulus adalah penjahat besar karena Nero menuduh Paulus sebagai pemimpin orang-orang Kristen yang membakar separuh kota Roma. Namun, ketika bertemu dengan Paulus dan mendengar kata-kata yang penuh hikmat serta tingkah lakunya yang sangat sopan, Mauritius mulai berubah pikiran dan menghormati Paulus. Pada titik akhir, Paulus berhasil meyakinkan dia untuk membiarkan Lukas mengobati anaknya yang saat itu sedang sakit parah. Dalam satu adegan percakapan, Mauritius bahkan berkata kepada Paulus, “Hampir-hampir kau yakinkan aku menjadi Kristen.”

Tokoh terakhir adalah Lukas, yang boleh dibilang menjadi narator dari seluruh cerita dalam film ini. Saya sangat terkesan dengan hubungan Lukas dan Paulus. Mereka saling berbagi beban, pergumulan, dan kasih, terutama kasih mereka kepada Tuhan. Ada satu titik ketika Lukas mulai meragukan kasih Tuhan karena melihat penderitaan yang dialami oleh jemaat Tuhan di Roma. Paulus meneguhkan Lukas dengan memaparkan tentang kasih Kristus yang mau datang ke dunia bagi manusia yang berdosa. Paulus sendiri mengalami banyak penderitaan, dia memiliki “duri dalam daging” yang diwujudkan dalam mimpi-mimpi buruk tentang kehidupan masa lalunya sebagai penganiaya jemaat. Namun, Paulus dikuatkan oleh Tuhan sehingga ia mampu memberi nasihat dan teguran kepada Lukas. Ini membuat saya menelisik kembali trauma-trauma masa lalu hidup saya dan mulai menyerahkannya kepada Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Sebelum dieksekusi mati, kata-kata terakhir Paulus kepada Lukas dapat menjadi kesimpulan dalam film ini, “Hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Setelah dipenggal kepalanya, dalam film ditampilkan wajah orang-orang yang Paulus aniaya dan bunuh pada masa yang lalu, mereka digambarkan bersukacita menyambut kedatangan Paulus untuk bersatu dengan mereka di surga.

Sebagaimana kebiasaan di YLSA, menonton film bareng bukanlah sekadar ‘entertainment‘, tetapi ‘education‘. Saya dan teman-teman banyak berbagi pelajaran dan berkat melalui apa yang kita lihat di film ini. Kami semua dapat melihat betapa Kristus itu hidup dalam jiwa setiap orang yang sudah menerima anugerah-Nya. Kasih-Nya, yang terbukti melalui hidup-Nya sampai mati-Nya di kayu salib, seharusnya cukup bagi kami untuk melakukan kehendak-Nya di dunia ini, bahkan jika kami harus mati sekalipun. Saya sendiri mendapatkan teladan bahwa tubuh Kristus memang harus menderita dalam dunia. Hal inilah yang membuat Perayaan Paskah kali ini berbeda dan mencerahkan jiwa saya. Terima kasih Tuhan Yesus!

Tentang Andy Saktia

Andy Saktia telah menulis 2 artikel di blog ini..

Cetak tulisan ini Cetak tulisan ini
Comments (1) Trackbacks (0)
  1. Film ini sangat pas ubntuk ditonton pada saat Paskah. Saya juga setuju bahwa kita bisa melihat bagaimana Kristus itu hidup dalam jiwa kita. Dalam film ini juga, Paulus secara tidak langsung menyatakan pada kita bahwa kita harus teteap setia pada Tuhan, meski dalam cobaan apapun sampai harus mati.
    -senda


Leave a comment

Connect with Facebook

No trackbacks yet.

© 2009-2015 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Laporan Masalah dan Saran