Blog SABDA http://blog.sabda.org melayani dengan berbagi Thu, 22 Jun 2017 08:09:56 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.4 Asyik, TED Staf YLSA Lagi! http://blog.sabda.org/2017/06/22/asyik-ted-staf-ylsa-lagi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=asyik-ted-staf-ylsa-lagi http://blog.sabda.org/2017/06/22/asyik-ted-staf-ylsa-lagi/#comments Thu, 22 Jun 2017 08:00:52 +0000 Santi http://blog.sabda.org/?p=8060

Pada blog-blog sebelumnya, pernah ada pembahasan seputar +TED @SABDA. Kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai +TED @SABDA khusus staf YLSA teranyar yang harus Sahabat YLSA ketahui. Siap?

Salah satu rangkaian acara Persekutuan Doa (PD) staf YLSA Jumat, 16 Juni 2017, adalah +TED @SABDA yang disampaikan oleh staf YLSA. Ada 4 presentasi menarik yang disampaikan oleh Indah, Liza, Aji, dan Danang. Diawali dengan presentasi berjudul "Integritas", Indah mencoba menyampaikan materinya semaksimal mungkin. Beberapa tokoh Alkitab yang memiliki hidup berintegritas juga disinggung Indah, sebagai contoh, Abraham dan Musa. "Sebagai orang percaya, kita harus bisa melakukan yang terbaik sekalipun bos/pemimpin kita tidak ada di dekat kita," begitulah salah satu aplikasi yang bisa kita lakukan untuk hidup berintegritas. Dilanjutkan dengan presentasi "Six Thinking Hats" oleh Liza, kita semua dibekali dengan wawasan mengenai 6 cara berpikir menurut warna topi. Keenam warna topi tersebut adalah merah (emosi, perasaan), kuning (berpikir positif/mencari keuntungan), hijau (kreativitas, ide baru), hitam (berpikir negatif, kesulitan, kelemahan), putih (berfokus pada data), dan biru (mengatur proses berpikir). Intinya, dalam keadaan tertentu, seseorang diharapkan bisa memakai topi-topi tersebut secara bijaksana, sesuai kebutuhan.

Presentasi ketiga disampaikan oleh Aji dengan judul "Perfeksionis Maladaptive". Topik ini cukup berat, tetapi sangat menolong kita untuk mengetahui, mengenali, bahkan mengatasi sikap perfeksionis. Materi yang disampaikan cukup padat dan direlevansikan dengan kehidupan Kristen yang alkitabiah. Intinya, kita dapat berhenti berusaha untuk memperoleh "kesempurnaan" menurut dunia, dan tinggal tenang dalam Dia Yang Sempurna (Matius 11:28). Namun, di sisi lain, benar bahwa Alkitab memanggil kita untuk "menjadi sempurna seperti Bapa" (matius 5:48). Yang terakhir, kita semua diberi wawasan dan belajar bagaimana melakukan "PA dengan metode Etimologi". Wah, presentasi terakhir ini makin berat ya? Danang, sebagai presentator terakhir, menjelaskan mengenai metode etimologi ini dengan sangat antusias dan sukacita, seolah-olah dia sedang menceritakan cerita terbaik yang pernah ia baca. Meski judul presentasinya cukup horor (menurut beberapa staf), tetapi materi bisa kami tangkap dengan baik. Intinya, dalam membaca Alkitab, metode penelusuran suatu kata dalam Alkitab akan sangat menolong kita untuk melihat konsep pada masa itu dan mendapatkan maknanya dengan akurat dan lebih mendalam. Hmmm ... materi yang unik, menurutku.

Masih penasaran dengan apa yang terjadi terhadap keempat presentator setelah mereka presentasi? Mereka diberi pertanyaan dan harus menjawabnya saat itu juga. Sesi ini cukup mengasah mereka, terutama mengenai kedalaman penguasaan materi. Terlepas dari jawaban yang diberikan benar, setengah benar, atau salah, kami belajar banyak hal dari proses ini. Saya sangat tertarik dengan presentasi terakhir. Meski kesannya "kok mau-maunya PA dengan metode seribet itu", saya jadi penasaran dan tertantang untuk mencobanya. Kesan saya, +TED @SABDA untuk staf YLSA semakin lama topiknya semakin berat ... hehe. Tak apa, justru makin menantang dan memacu untuk banyak belajar hal-hal baru supaya kita lebih berkembang. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/06/22/asyik-ted-staf-ylsa-lagi/feed/ 0
Kunjungan SABDA ke Kota Pelajar (GKI Ngupasan) http://blog.sabda.org/2017/06/13/kunjungan-sabda-ke-kota-pelajar-gki-ngupasan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kunjungan-sabda-ke-kota-pelajar-gki-ngupasan http://blog.sabda.org/2017/06/13/kunjungan-sabda-ke-kota-pelajar-gki-ngupasan/#comments Tue, 13 Jun 2017 07:27:28 +0000 maskunarti http://blog.sabda.org/?p=8034

Shalom, Maskunarti kembali menyapa sahabat setia SABDA. Saya bersyukur bisa ikut roadshow tim SABDA bersama Ibu Yulia, Tika, dan Lukas. Kami berangkat ke Yogyakarta pada 13 Mei 2017, siang, dengan transportasi umum kereta api. Bersyukur, kami bisa dapat tempat duduk dan menikmati perjalanan dengan baik. Waktu menunjukkan pukul 15.24 ketika kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, kami menggunakan taksi menuju GKI Ngupasan. Kondisi lalu lintas yang cukup lancar membuat kami tiba di lokasi sesuai jadwal. :)

Setibanya kami di GKI Ngupasan, kami dipersilakan menempati ruang pastori untuk meletakkan barang-barang dan beristirahat. Namun, karena waktu, kami memilih untuk menyiapkan meja booth SABDA lebih dahulu sebelum beristirahat dan mandi.

Saya melihat jemaat antusias mengikuti ibadah yang berlangsung pukul 17.30 sore itu. Mereka memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh dan sukacita terpancar dari wajah mereka. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Ibu Yulia diambil dari Kisah Para Rasul 7:55-60, berjudul "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat" (Belajar dari tokoh Stefanus). Saya dan rekan-rekan yang lain mengikuti ibadah di luar ruangan sambil menjaga booth SABDA, dan bersyukur karena khotbah bisa kami dengarkan dengan baik dari luar.

Dari firman Tuhan Kisah Para Rasul 7:55-60, saya belajar tentang empat kuadran bagaimana saya bisa jadi pengikut Tuhan sampai akhir hayat, yaitu:
1. Menjadi saksi yang aktif.
2. Menjadi saksi yang bertanggung jawab pada imannya.
3. Menjadi saksi yang setia.
4. Menjadi saksi yang berani mati.
Jika para Sahabat SABDA ingin melihat presentasi PPT khotbah tersebut, silakan mengunduhnya slide share SABDA

Pada Minggu, 14 Mei 2017, Ibu Yulia berkhotbah dalam tiga ibadah raya, pukul 06.30 WIB, 09.00 WIB, dan 16.30 WIB dengan tema khotbah yang sama,yaitu "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat". Pada pkl. 10.00, kami juga memberikan pelatihan #Ayo_PA!kepada jemaat remaja GKI Ngupasan. Namun, selain generasi muda, ada juga warga dewasa yang mengikutinya. Jumlah peserta sekitar 40 orang lebih. Peserta antusias mengikuti pelatihan yang dibawakan oleh Tika. Para peserta yang generasi muda sangat fasih dalam mempraktikkan yang disampaikan dan disimulasikan oleh Tika. Bagi warga dewasa, meski belum begitu terampil dalam pengoperasian gadget, mereka memiliki keingintahuan yang tinggi dan berusaha untuk mengikuti pelatihan ini dengan baik. Kami bersyukur dapat membantu mereka melakukan instalasi aplikasi SABDA Android ((Alkitab SABDA, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, Peta) di HP mereka.

Ini merupakan pengalaman kedua saya mengikuti roadshow SABDA. Saya belajar banyak hal, khususnya dalam berinteraksi dengan jemaat, memberikan penjelasan tentang booth SABDA, dan menginstal aplikasi-aplikasi SABDA Android. Saya berharap, SABDA semakin dipakai Tuhan untuk menolong banyak orang di berbagai penjuru Indonesia untuk menggunakan teknologi dalam belajar firman Tuhan dan melayani Tuhan lebih maksimal lagi. Segala kemuliaan bagi Tuhan. Amin.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/06/13/kunjungan-sabda-ke-kota-pelajar-gki-ngupasan/feed/ 0
Bertumbuh dan Berkembang di SABDA http://blog.sabda.org/2017/06/09/bertumbuh-dan-berkembang-di-sabda-2/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bertumbuh-dan-berkembang-di-sabda-2 http://blog.sabda.org/2017/06/09/bertumbuh-dan-berkembang-di-sabda-2/#comments Fri, 09 Jun 2017 03:07:47 +0000 Ayub http://blog.sabda.org/?p=8026

Hari-hari ini, saya merenungkan tentang kebaikan besar yang Tuhan lakukan dalam langkah iman dan hidup saya selama kurang lebih 2,5 tahun ini. Pada 7 Oktober 2014, untuk pertama kalinya saya bergabung dengan pelayanan YLSA, saya masih sangat mengingatnya. Di tempat ini, saya disambut dengan baik dan diterima dalam sebuah komunitas teman-teman yang mayoritas masih muda. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali saya di tempat ini dan sekarang ini, saya jauh lebih bertumbuh dalam skill, jiwa, dan juga kerohanian. Selain itu, secara kepribadian saya juga berkembang.

Tuhan baik, saya beroleh kesempatan untuk berada dalam sebuah ladang yang tidak pernah saya pikirkan akan saya kerjakan, yaitu ladang digital. Ladang yang telah, sedang, dan akan terus digarap oleh YLSA. Saya seorang lulusan jurusan Pendidikan Agama Kristen yang ketika pertama kali berada di tempat ini merasa takut dan minder dengan banyak staf yang begitu pandai. Akan tetapi, di tempat ini saya diajari dan didorong untuk belajar mandiri dan mendapat banyak keterampilan. Tidak ada teman yang tidak mau menolong saya untuk berkembang, dan hal itu adalah sebuah kesempatan yang mahal. Saya dilibatkan dalam beberapa bidang pelayanan sehingga saya boleh banyak belajar sehingga pribadi dan potensi saya mengalami kemajuan di tempat ini. Saya bersyukur atas keberadaan pemimpin dan teman-teman saya, dalam suka dan duka, begitu menolong saya sehingga saya bisa terlibat dalam pelayanan ini. YLSA adalah alat Tuhan untuk menjangkau jiwa pada abad ke-21 ini.

Dari dalam hati saya, saya berdoa agar YLSA tetap melihat hati Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan. Terima kasih untuk YLSA yang telah menolong saya melihat hati Tuhan dan bangsa-bangsa yang sedang menantikan Kabar Baik.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/06/09/bertumbuh-dan-berkembang-di-sabda-2/feed/ 0
Pengalaman Mengikuti Seminar “Gereja Misi Dunia” http://blog.sabda.org/2017/05/31/pengalaman-mengikuti-seminar-gereja-misi-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengalaman-mengikuti-seminar-gereja-misi-dunia http://blog.sabda.org/2017/05/31/pengalaman-mengikuti-seminar-gereja-misi-dunia/#comments Wed, 31 May 2017 06:15:13 +0000 Odysius http://blog.sabda.org/?p=8008

"Yulia sedang cari you. Saya pikir, dia punya sesuatu yang pasti you akan suka."

Mendengar pernyataan tersebut, saya langsung bergegas menemui Ibu Yulia untuk menanyakannya. Ternyata, benar saja, beliau menawarkan sebuah kesempatan yang bagi saya tidak ternilai harganya: menjadi salah satu penerjemah dalam acara seminar misi di Yogyakarta. Itu sama sekali di luar dugaan saya; tentu saja ini kesempatan yang tidak akan saya lewatkan! Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menerima tawaran tersebut. Dan, sebagai persiapan untuk itu, beliau memberikan saya softcopy dari buku World Mission Church (Gereja Misi Dunia) yang pengarangnya akan menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar misi tersebut.

Demikianlah secuplik adegan yang menjadi prolog dari seluruh rangkaian episode yang akan saya tulis kali ini, yaitu tentang pengalaman saya mengikuti seminar misi di Yogyakarta pada 9 -- 10 Maret 2017 silam. Seminar misi ini sebenarnya bukanlah acara tersendiri, melainkan bagian dari acara rapat tahunan sinode Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI), yang diselenggarakan pada tanggal 8 -- 10 Maret 2017 di Villa Taman Eden 2 Kaliurang, Yogyakarta. Tim SABDA yang berangkat ke sana hanya Bu Yulia dan saya.

Singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Kami berangkat dari Solo sekitar pukul 08.30 dengan bus dan mampir ke Klaten untuk mengambil cetakan buku terjemahan "Gereja Misi Dunia" untuk dibagikan kepada peserta. Kami tiba di tempat acara, di Villa Taman Eden 2, sekitar hampir pukul 12.00. Setibanya di sana, kami disambut oleh empat orang bule yang tampaknya sudah menantikan kedatangan kami. Mereka adalah Pak Paul Jenks dan istrinya, Ibu Lois Jenks, dari AMG International, dan Ps. David Anderson, pengarang buku World Missions Church yang sudah saya singgung sebelumnya, dan rekannya, Pak Wick Jackson, dari Envoy International. Dua orang yang disebutkan terakhir adalah para pembicara yang akan menyampaikan materi dalam seminar misi nanti.

Setelah berkenalan dan berbincang sejenak dengan keempat orang ini, Bu Yulia dan saya lantas menyiapkan booth dan menata berbagai bahan untuk para peserta -- seperti berbagai CD audio Alkitab, DVD Library Anak, traktat pelayanan anak, dll.. Namun, sebelum saya lanjutkan, ada kejadian menarik yang ingin saya ceritakan terlebih dahulu.

Sekitar satu jam sebelum berangkat ke Yogyakarta pagi itu, Pak Paul Jenks menghubungi Ibu Yulia, menginformasikan bahwa ada workbook untuk peserta seminar yang masih perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Akibatnya, pagi itu kami mencoba menerjemahkan sebanyak mungkin isi workbook tersebut sebelum berangkat. Bahkan, dalam perjalanan bus ke Yogyakarta, Ibu Yulia sibuk mengetik dengan laptopnya dan saya dengan ponsel saya, untuk mengerjakan sebanyak yang kami bisa. Namun, karena workbook itu cukup banyak halamannya, maka tidak bisa cepat diselesaikan, bahkan sampai malam kami masih harus bekerja keras sambil menjaga booth dan menjelaskan tentang produk-produk SABDA saat ada yang berkunjung ke booth. Ada juga yang minta diinstalkan aplikasi-aplikasi Android ke ponsel mereka. Sedangkan Ibu Yulia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang pertemuan, mengikuti seminar, dan menerjemahkan beberapa sesi untuk para pembicara. Itulah hari pertama.

Pada hari kedua, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Para pembicara, Ps. David Anderson dan Pak Wick Jackson, sepertinya sangat senang jika Ibu Yulia yang menjadi penerjemah mereka. Tetapi masalahnya, Ibu Yulia tidak bisa tinggal lebih lama dan harus pulang siang itu karena harus mempersiapkan roadshow ke Lampung. Singkat cerita, setelah Ibu Yulia pergi, Ibu Lois meminta saya menjadi penerjemah untuk sesi kedua yang akan dibawakan oleh Pak Wick Jackson itu. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, dan dalam waktu kurang dari 5 menit, saya sudah berada di samping Pak Wick di depan dengan memegang mikrofon, siap untuk menerjemahkan meski sedikit ragu dan tidak yakin. Namun, dengan pertolongan Tuhan, sesi tersebut bisa berjalan dengan baik dan materi bisa disampaikan seluruhnya kepada para peserta. Saya sangat bersyukur dalam hati.

Seusai sesi, saya juga berkesempatan untuk duduk dan makan bersama-sama dengan mereka dan membicarakan tentang banyak hal, salah satunya tentang apa yang baru saja kita bahas pada sesi sebelumnya, yaitu tentang pelayanan misi jangka pendek. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan dan sangat berkesan bagi saya.

Sore harinya, saya harus kembali ke Solo. Saya ikut turun dari villa bersama-sama dengan rombongan Pak Paul, Ibu Lois, Pak David, dan Pak Wick, yang akan pulang ke hotel. Saya memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dengan mereka, sekaligus meminta tanda tangan Pak David untuk salinan buku Gereja Misi Dunia yang saya punya. Pada kesempatan itu, Pak Paul juga menawarkan supaya saya menjadi penerjemah lagi untuk mini seminar dengan topik yang sama yang akan diselenggarakan di STT Berita Hidup pada 13 -- 14 Maret 2017. Sungguh kesempatan yang tidak ternilai bagi saya. Kemudian, setelah berpamitan dengan keempat orang tadi, saya diantarkan ke dekat bandara untuk bisa naik bus pulang ke Solo.

Sangat senang rasanya bisa turut ambil bagian dalam pelayanan serta mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang berharga ini. Terlebih, saya sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang seperti Pak David dan Pak Wick, yang benar-benar memiliki hati untuk misi dunia. Dari pengalaman mereka dan materi yang mereka bawakan dalam seminar ini, saya belajar banyak tentang bagaimana mengambil bagian secara pribadi dan bermakna dalam misi dunia. Kiranya segala sesuatu yang sudah terjadi boleh menjadi jalan bagi kemuliaan Allah untuk dinyatakan melalui umat-Nya. Haleluya!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/05/31/pengalaman-mengikuti-seminar-gereja-misi-dunia/feed/ 0
Pelayanan SABDA di Pontianak http://blog.sabda.org/2017/05/31/pelayanan-sabda-di-pontianak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pelayanan-sabda-di-pontianak http://blog.sabda.org/2017/05/31/pelayanan-sabda-di-pontianak/#comments Wed, 31 May 2017 04:49:02 +0000 Rostika http://blog.sabda.org/?p=8002

Bersyukur kepada Tuhan karena pada tanggal 26 -- 29 April 2017, tim SABDA (saya dengan Ibu Yulia) mendapat kesempatan mengadakan roadshow ke Pontianak di tiga tempat, yaitu di STT Pontianak, acara IVEC, dan GKNI Pniel. Kami berangkat dari tempat yang berbeda. Saya berangkat dari Solo, sedangkan Bu Yulia berangkat dari Kupang bersama rombongan peserta IVEC dari luar negeri (seperti Taiwan, Hongkong, Amerika, Kanada, dan lain-lain).

Sesampainya di bandara Supadio, Pontianak, saya bertemu Bu Yulia dan langsung keluar bandara untuk menjumpai tim dari STT Pontianak yang sudah siap menjemput kami. Di STT Pontianak, kami akan memberikan pelatihan Software SABDA dan #Ayo_PA kepada lebih dari 100 mahasiswa dan beberapa dosen yang ikut hadir. Saya dibantu oleh Ronny, salah satu mahasiswa di sana, untuk menginstal Software SABDA pada laptop para peserta dan membantu jika ada yang mengalami kesulitan. Saya berharap 4 jam presentasi yang dibawakan oleh Bu Yulia dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta dalam menggali firman Tuhan dan menyampaikan kebenaran di ladang yang Tuhan percayakan nanti.

Usai acara, kami diantar oleh Bapak Herwin, Dekan I STT Pontianak, ke rumah retret Tirta Ria, tempat berlangsungnya acara IVEC yang diselenggarakan tgl. 26 -- 28 April 2017. Jumlah peserta yang mengikuti acara tersebut lebih dari 200 orang. Selain 30 peserta dari luar negeri dan 10 peserta dari Jawa, sebagian besar adalah peserta dari berbagai gereja di Pontianak (seperti GKNI Pniel, GKKB, GPPIK, dll.) dan luar Pontianak (Singkawang, Ngabang, dll.). Selama acara berlangsung, tim SABDA membuka booth untuk membagikan produk-produk SABDA agar para peserta dari Pontianak juga mendapat berkat.

Pada 27 April 2017, pkl. 11.00, Ibu Yulia menjadi pembicara untuk menyampaikan tentang bagaimana menjalankan "Misi pada Era Digital". Karena peserta dari luar negeri kebanyakan berbahasa Chinese, maka hampir seluruh acara diterjemahkan dalam bahasa Mandarin, termasuk materi Bu Yulia. Meskipun penerjemah terbata-bata, hal itu tidak menghalangi materi disampaikan secara lengkap. Ini terlihat dari respons peserta setelah presentasi. Beberapa dari mereka menyampaikan ke Ibu secara langsung, sedangkan yang lain mendiskusikannya di depan booth tentang era digital dan mengaitkannya dengan bahan-bahan yang kami miliki. Di sana, saya melihat bagaimana Tuhan membukakan wawasan baru kepada mereka tentang ladang misi yang hampir terlupakan oleh mereka, yaitu ladang misi dunia digital.

Pada acara tersebut, saya juga mendapatkan beberapa teman baru yang memiliki ketertarikan dalam dunia pelayanan anak, yaitu Elisa (yang bergabung dalam pelayanan bimbel GKNI Pniel) dan Yudi (yang sedang aktif mencari bahan untuk panggung boneka bagi anak sekolah minggunya). Dari pengalaman mereka, saya turut merasakan pemeliharaan serta kasih Tuhan kepada anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Sungguh merupakan kesempatan berharga untuk melihat seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang mengasihi Tuhan.

Pada 28 April, pkl. 14.00, acara IVEC selesai. Para peserta dari luar kota, luar pulau, dan luar negeri kembali ke tempat masing-masing, sedangkan kami melanjutkan pelayanan ke GKNI Pniel. Di gereja ini, SABDA memberikan pelatihan #Ayo_PA! yang dihadiri oleh jemaat dan anak-anak muda GKNI. Beberapa peserta dari gereja itu juga menjadi panitia pada acara IVEC sehingga kami tidak merasa asing lagi. Selain itu, hadir juga Pak Dedi dari GPPIK. Acara dibuka dan ditutup oleh Ibu Liliana, Gembala Sidang gereja ini. Saya terkesan dengan perhatian para peserta dalam mengikuti pelatihan #Ayo_PA!. Kiranya dengan pelatihan ini, kecintaan akan firman Tuhan dapat semakin menguatkan jemaat, terutama dengan bantuan teknologi.

Pagi-pagi benar, pada 29 April 2017, kami bergegas ke bandara untuk kembali ke Solo melalui Yogyakarta. Pesawat sempat mengalami delay 2 jam lebih. Sesampainya di Yogyakarta, kami transit ke Solo dengan menggunakan kereta api. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman dan kesempatan, juga teman-teman baru yang Tuhan berikan selama roadshow di Pontianak. Kiranya semua yang sudah dibagikan dapat menjadi berkat dan nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/05/31/pelayanan-sabda-di-pontianak/feed/ 0