Blog SABDA http://blog.sabda.org melayani dengan berbagi Thu, 14 Dec 2017 06:26:23 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.4 Sukacita Menjadi Mentor Magang http://blog.sabda.org/2017/12/02/sukacita-menjadi-mentor-magang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sukacita-menjadi-mentor-magang http://blog.sabda.org/2017/12/02/sukacita-menjadi-mentor-magang/#comments Sat, 02 Dec 2017 06:23:42 +0000 Santi http://blog.sabda.org/?p=8480

Oleh: Santi

Ada rasa "deg-deg'an" ketika saya ditunjuk oleh Ibu Yulia untuk menjadi salah satu mentor bagi sekelompok staf magang dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Seumur-umur, saya belum pernah menjadi mentor staf magang, dan inilah yang membuat saya ragu -- bisa tidak ya, bisa tidak ya. Boleh dibilang, kali ini saya menjalani "magang sebagai mentor" bersama Okti dan Evi yang sudah beberapa kali menjadi mentor. :)

Selama dua bulan (September - awal November), teman-teman magang yang terdiri dari Manda, Lidya, Rian, Jessica, dan Dita bersama-sama berjuang mengerjakan berbagai jenis tugas yang sudah kami sediakan bagi mereka. Saya menjadi mentor untuk Dita dan Manda, sedangkan Evi menjadi mentor untuk Rian, dan Okti menjadi mentor untuk Lidya dan Jessica. Selama menjadi mentor, saya belajar banyak hal, antara lain: mengambil keputusan, menolong staf magang ketika ada kesulitan, menyemangati/memotivasi, mendoakan, hingga belajar melihat pertumbuhan mereka dari berbagai sisi. "Menantang" dan "menyenangkan" itulah kesan saya. Saya bersyukur sekaligus bersukacita ketika melihat staf magang mau bertekun saat menemui kesulitan atau mau bertahan saat menghadapi masalah hingga akhirnya dapat menang dalam proses ini. Saya senang ketika melihat mereka mulai mendapatkan makna penting di balik kegiatan Pendalaman Alkitab, kliping, membaca, mencari bahan, mengomentari topik diskusi, dll. Saya merasakan ada sukacita ketika melihat staf magang tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi bisa melihat makna penting dari setiap tugas yang mereka kerjakan. Ini salah satu bukti bahwa Tuhan bekerja dalam diri mereka melalui proses magang ini.

Saya pikir, YLSA sangat siap dalam menyambut magang. Terbukti dengan proses magang yang bisa dibilang rapi, baik dalam persiapan pekerjaan maupun sistem kerja dan evaluasi. Sebagai mentor, saya sangat terbantu dengan adanya persiapan ini. Good job SABDA! Oh ya, satu lagi, sikap staf magang dalam merespons setiap tugas dan informasi sangat baik dan antusias sehingga hal ini menjadi semangat juga bagi mentor untuk mendampingi mereka. Good job untuk staf magang! Akhir kata, Tuhan baik! Ia selalu memberi kesempatan kepada anak-anak-Nya untuk bertumbuh melalui banyak cara. Saya berharap dan berdoa kiranya teman-teman magang dari UKSW terus mengasihi Tuhan dan senantiasa bersukacita ketika Ia memercayakan kepada mereka segala sesuatu untuk dikerjakan bagi Kerajaan-Nya. Praise the Lord!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/12/02/sukacita-menjadi-mentor-magang/feed/ 0
Roadshow SABDA dalam Temu Raya Pelayan Anak Nasional GKII http://blog.sabda.org/2017/11/29/roadshow-sabda-dalam-temu-raya-pelayan-anak-nasional-gkii/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=roadshow-sabda-dalam-temu-raya-pelayan-anak-nasional-gkii http://blog.sabda.org/2017/11/29/roadshow-sabda-dalam-temu-raya-pelayan-anak-nasional-gkii/#comments Wed, 29 Nov 2017 04:29:43 +0000 Rostika http://blog.sabda.org/?p=8466

Oleh: Tika

Pada tanggal 21 September 2017, tim SABDA (Bu Yulia, Evie, Joy, dan saya) mendapat kesempatan untuk menjadi presentator di acara Temu Raya Pelayan Anak Nasional Gereja Kristen Kemah Injil (GKII) yang bertempat di Wisma Taman Eden, Kaliurang, Yogyakarta. Pukul 10.00 WIB, kami tiba di Stasiun Maguwo. Saat itu, salah satu hal yang mengesankan bagi saya, karena tidak seperti biasanya, kami dijemput dengan menggunakan bus pariwisata yang besar. Ternyata hal itu terjadi karena pagi itu panitia menggunakan bus yang sama untuk mengantar peserta tamu ke bandara untuk kembali ke Jakarta.

Karena waktu yang sempit, sesampainya di sana, kami bergegas memasang booth SABDA untuk memajang produk-produk pelayanan YLSA bagi para peserta yang menginginkannya. Jumlah peserta yang hadir lebih dari 300 orang. Peserta terbanyak adalah dari GKII Papua serta Kalimantan. Namun, ada juga peserta yang datang dari GKII Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Kami didaulat untuk membawakan dua presentasi. Sesi presentasi pertama dimulai oleh Bu Yulia yang membahas tentang "Anak di Mata Allah", lalu dilanjutkan oleh Joy tentang "Karakteristik Anak", dan diakhiri dengan sesi tanya jawab. Presentasi kedua dilakukan pada keesokan harinya pukul 08.00 WIB untuk membawakan tentang #Ayo_PA!. Presentasi diawali oleh Bu Yulia untuk memperkenalkan tentang "digital ministry" pelayanan YLSA, lalu disambung oleh Evie yang menjelaskan tentang pemakaian DVD Library SABDA Anak di Sekolah Minggu. Setelah itu, saya melanjutkan dengan presentasi tentang bagaimana menggunakan lima aplikasi Android SABDA yang terintegrasi untuk melakukan #Ayo_PA! bagi guru-guru sekolah minggu. Ini pengalaman pertama bagi saya untuk menyampaikan pelatihan #Ayo_PA! kepada lebih dari 300 orang. Ternyata itu bukan hal yang mudah. Namun, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena peserta cukup aktif. Teman-teman SABDA juga menolong peserta untuk bisa mengikuti setiap langkah yang diajarkan. Tuhan sungguh baik.

Pada roadshow tersebut, tim SABDA juga bertemu beberapa mitra SABDA, salah satunya adalah Bapak Be Ba Li Gea. Beliau adalah seorang pelayan anak yang juga pelanggan beberapa publikasi YLSA, serta peserta yang dalam komunitas diskusi YLSA di Facebook. Selain itu, melalui booth yang dibuka, tim SABDA dapat bertemu dengan orang-orang baru yang mau berbagi pengalaman tentang kebaikan Tuhan dalam melayani anak-anak.

Setelah presentasi kedua selesai, kami bersiap-siap pulang kembali ke Solo. Bersyukur untuk pengalaman pelayanan dengan guru-guru sekolah minggu dari GKII. Saya secara pribadi dibukakan kembali tentang kebesaran Tuhan dalam karya-Nya, yang mengajarkan saya untuk tetap taat melakukan bagian saya dan percaya bahwa Tuhan akan menyatakan pertolongan-Nya, selama kita melakukannya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Soli Deo Gloria!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/11/29/roadshow-sabda-dalam-temu-raya-pelayan-anak-nasional-gkii/feed/ 0
Menjadi Mentor bagi Para Magang http://blog.sabda.org/2017/11/27/menjadi-mentor-bagi-para-magang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menjadi-mentor-bagi-para-magang http://blog.sabda.org/2017/11/27/menjadi-mentor-bagi-para-magang/#comments Mon, 27 Nov 2017 06:20:22 +0000 Okti http://blog.sabda.org/?p=8457

Oleh: Okti

Saya tidak ingat kapan tepatnya, yang jelas sekitar akhir Agustus ketika Bu Yulia mengatakan bahwa saya, Evie, dan Santi, akan menjadi mentor bagi mahasiswa UKSW yang akan magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). "Tugas kalian adalah membantu mahasiswa magang terkait dengan tugas-tugas atau kesulitan yang mereka hadapi," begitu kira-kira kata Bu Yulia saat menjelaskan apa peran kami sebagai mentor. Hmm, tugas yang cukup menarik dan lumayan menantang sepertinya. Saya mengangguk meski belum punya bayangan apa pun yang terkait dengan tugas mentor ini.

Awal September, mahasiswa magang pun datang. Mereka terdiri dari lima orang -- dua orang dari Jurusan Penerjemahan, Manda dan Dita, dan tiga orang dari Jurusan Penulisan Kreatif, Jessica, Lidya, dan Rian. Saya ditunjuk menjadi mentor dari Jessica dan Lidya, Santi menjadi mentor Manda dan Dita, sedangkan Evie menjadi mentor dari Rian. Pada hari pertama di YLSA, kelimanya langsung mendapat briefing dan orientasi tentang YLSA, tugas, aturan, serta hal-hal yang terkait dengan keberadaan mereka selama magang di YLSA. Mereka juga diberi kesempatan untuk menceritakan tentang talenta atau passion yang mereka miliki, sebagai modal bagi kami untuk mengetahui tugas-tugas apa yang bisa diberikan dan dikembangkan atau digunakan dalam pelayanan selama mereka berada di YLSA. Profiling kemampuan, istilah kerennya. Setelah proses awal itu dilakukan, hari-hari bersama mahasiswa magang pun dimulai di kantor Griya SABDA.

Menerjemahkan, menulis, mencari bahan, rekaman audio dan video, membuat script, orientasi dan training, bergabung dalam komunitas YLSA, PA, presentasi kelompok, stand up meeting, mentoring, evaluasi, adalah tugas-tugas yang kemudian mewarnai hari-hari "magangs" -- begitu kami menyebut mereka -- selama dua bulan. Lalu, dalam proses mentoring yang diadakan seminggu sekali bersama mentor masing-masing, mereka diberi kesempatan mengemukakan kesulitan atau hambatan yang ditemui selama menjalankan tugas-tugas mereka. Sebagai mentor, kami siap sedia membantu dan memberi pengarahan agar mereka dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan baik, bukan hanya dari segi teknis dan pengetahuan teori serta praktik, melainkan juga dalam memberi semangat dan nasihat.

Satu atau dua kali, tentu ada teguran yang diberikan saat proses stand up setiap pagi atau saat mentoring dan evaluasi. Berisik saat jam kerja, kurang tepat dalam mengerjakan tugas, tidak mengikuti arahan, atau belum mengumpulkan tugas menjadi alasan teguran diberikan. Selebihnya, kami lebih banyak memberikan masukan atau saran kepada mereka semua. Tidak sulit bekerja sama dengan mereka. Menyenangkan ternyata, karena semua bersikap kooperatif dan positif dalam menerima tugas, masukan, arahan, bahkan teguran yang diberikan. Hasil pekerjaan mereka pun semakin baik seiring dengan berjalannya waktu, dan keluhan yang pada awalnya sering diutarakan, lama-lama kian jarang didengar oleh para mentor.

Hubungan anak-anak magang dengan semua staf YLSA juga terjalin dengan baik. Rasanya, hari-hari di Griya SABDA yang biasanya tenang jadi ramai dan heboh karena mereka. Tidak selalu karena suara mereka saja sih. Suara dua kipas angin yang selalu menyala sejak mereka datang rupanya juga punya kontribusi yang besar dalam menyumbang keramaian di kantor selama hari-hari yang panas itu. Lalu, celetukan-celetukan seperti, "Kak Ody terbaik," "Sore, Kak," (padahal masih siang), "Sip, Kak,", "Stand up, stand up ...", "Internetnya lemot, Kak," adalah kalimat-kalimat yang akrab di telinga kami dalam dua bulan tersebut.

Menjalani hari-hari di YLSA tentu merupakan pengalaman berharga yang bisa didapatkan oleh semua mahasiswa magang. Selain belajar secara nyata, tentang bagaimana menghadapi dunia kerja dan pelayanan, mahasiswa magang juga mendapat banyak pembelajaran serta proses pembentukan di YLSA. Bertumbuh secara rohani dan mental serta bertambah terampil dan berwawasan adalah satu sisi. Di atas semua itu, mengambil bagian dalam pelayanan Tuhan dan menjadi berkat adalah privilege yang mungkin tidak akan didapatkan di tempat magang lain. Bagi saya sendiri, bisa dipanggil "Kak Okti" dan menjadi Kakak buat mereka selama dua bulan belakangan ini adalah pengalaman yang menyenangkan dan penuh dengan senyum. Dengan perkataan lain, lebih banyak suka daripada dukanya.

So, good job, magangs! Keep your spirit in God, and have a blessed future ahead. We'll miss your noisy voice. :-)

]]>
http://blog.sabda.org/2017/11/27/menjadi-mentor-bagi-para-magang/feed/ 0
Pelayanan SABDA di Universitas Pelita Harapan, Surabaya http://blog.sabda.org/2017/11/24/pelayanan-sabda-di-universitas-pelita-harapan-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pelayanan-sabda-di-universitas-pelita-harapan-surabaya http://blog.sabda.org/2017/11/24/pelayanan-sabda-di-universitas-pelita-harapan-surabaya/#comments Fri, 24 Nov 2017 08:36:48 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8439

Oleh: *Levina

Puji syukur kepada Tuhan, pada 7 November 2017, saya mendapat kesempatan untuk ikut membantu Ibu Yulia dalam pelayanan SABDA di Universitas Pelita Harapan (UPH), Surabaya. Ada dua pelayanan yang dilakukan oleh Ibu Yulia pada hari itu. Pertama, menjadi pembicara untuk persekutuan pagi bagi para staf/dosen di UPH dan yang kedua adalah menyampaikan seminar kepada para mahasiswa yang bertema “Digital Word for Digital World”.

Kami datang lebih awal. Suasana kampus yang terletak di dalam mall City of Tomorrow ini masih sangat sepi. Kami memanfaatkan waktu untuk menyusun booth SABDA di lorong kecil di depan ruangan chapel, tempat acara berlangsung. Seperti biasa, booth ini dipakai untuk memajang produk-produk SABDA, seperti Alkitab audio dan berbagai alat digital yang berisi bahan-bahan untuk pelayanan. Tugas saya pada hari itu adalah menyambut mereka yang mampir melihat booth tersebut setelah ibadah dan seminar berlangsung.

Dalam persekutuan pagi staf/dosen UPH, Ibu Yulia menyinggung tema yang masih hangat-hangatnya dibahas banyak gereja saat itu, yaitu Reformasi. Beliau menyampaikan keprihatinan bahwa banyak orang Kristen di gereja pada masa kini yang kebanyakan merayakan hari Reformasi hanya sebagai event, tanpa sungguh-sungguh memperjuangkan makna Reformasi itu sendiri. Reformasi bukan terjadi pada masa lalu dan selesai begitu saja. Reformasi harus terus-menerus dijalankan oleh setiap pribadi (semper reformanda/always reforming).

Selain mengingatkan kembali makna dari kelima SOLA dalam reformasi, Ibu Yulia juga mengajak untuk merefleksikan hal tersebut dalam kehidupan orang percaya pada zaman modern ini. Dengan kemudahan yang luar biasa dalam mengakses Alkitab, banyak orang percaya yang malah malas dan tidak menghargainya. Sementara dulu, pada zaman Martin Luther, Alkitab tidak bisa diakses oleh banyak masyarakat biasa dan rakyat kecil sehingga banyak orang dengan mudah ditipu oleh ajaran yang tidak benar. Refleksi tersebut juga kembali disampaikan pada seminar yang diadakan bagi para mahasiswa. Di tengah kehidupan modern dan perkembangan teknologi, mereka diingatkan untuk menggunakan teknologi dan kemudahan yang ada untuk menggali firman Tuhan lebih dalam.

Ini bukan pertama kalinya saya menjaga booth SABDA. Namun, pengalaman saya menjaga booth kali ini sebenarnya bercampur antara senang dan juga prihatin. Saya senang melihat banyak staf dari UPH yang antusias untuk mendapatkan bahan pelayanan lewat produk-produk SABDA, tetapi saya sedih melihat kebanyakan mahasiswa, para masyarakat digital yang hadir, sepertinya kurang tertarik untuk mengunjungi booth. Bahkan, selama acara berlangsung, banyak yang keluar masuk, atau bahkan duduk di luar ruangan.

Lepas dari itu, saya tetap bersyukur bisa ikut serta dalam pelayanan SABDA kali ini. Biarpun mungkin tugas saya sangat kecil, saya bersyukur lewat pelayanan ini saya sendiri juga sebenarnya ditegur karena di tengah kesibukan dalam pekerjaan setiap hari. Saya sering kali malas, terlalu lelah, atau bahkan lupa untuk membaca dan menggali Alkitab. Saya berharap apa yang disampaikan oleh Ibu Yulia dalam pelayanan SABDA kali ini juga boleh tinggal di hati setiap peserta, terutama para mahasiswa yang hadir sehingga hal ini boleh mengingatkan mereka, yaitu pentingnya Alkitab sebagai otoritas utama dalam iman dan kehidupan mereka. Soli deo gloria!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/11/24/pelayanan-sabda-di-universitas-pelita-harapan-surabaya/feed/ 0
Pengalaman Magang Dua Bulan http://blog.sabda.org/2017/11/20/pengalaman-magang-dua-bulan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengalaman-magang-dua-bulan http://blog.sabda.org/2017/11/20/pengalaman-magang-dua-bulan/#comments Mon, 20 Nov 2017 07:46:20 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8427

Oleh: *Lidya

Halo teman-teman semua. Perkenalkan nama saya Lidya Putnarubun, saya adalah mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Puji syukur, dengan penyertaan Tuhan pada semester ke-7 ini, saya mendapat kesempatan untuk magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) selama dua bulan. Saya magang tidak sendiri karena ada beberapa kawan magang lain, yaitu Dita, Jean, Ryan, dan Jessica. Walaupun belum saling mengenal dekat, tidak butuh waktu lama untuk kami saling akrab. Selain karena berasal dari program studi yang sama dan angkatan yang sama, kami juga dari kelas yang sama meskipun kami memilih konsentrasi yang berbeda.

Selama dua bulan menghabiskan waktu di YLSA, ada banyak suka maupun duka yang saya pribadi alami. Pada umumnya, banyak orang beranggapan bahwa mahasiswa/i magang biasanya hanya akan menjadi pesuruh, seperti membuatkan kopi, fotokopi, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Namun, berbeda dengan apa yang saya alami di YLSA. Di YLSA, saya didorong untuk mengembangkan semua kemampuan yang ada, mengombinasikan setiap ilmu yang didapat selama di kampus dan di YLSA ini, dan kesempatan menjadi pribadi yang aktif berorganisasi. Saya merasa begitu dirangkul di tempat ini sehingga merasa begitu sedih ketika harus berpisah dengan teman-teman di YLSA.

Sungguh sangat berharga mendapatkan tempat magang seperti di YLSA. Semua pengalaman dan kemampuan yang didapat selama magang ini akan saya terapkan saat nanti terjun dalam dunia pekerjaan. YLSA telah menjadi tempat yang sangat membantu saya untuk berkembang. Di kampus, saya belajar teknik penulisan cerita fiksi yang mengutamakan sisi-sisi kehidupan dan lain sebagainya. Di YLSA, saya dilatih untuk menciptakan sebuah karya fiksi yang alkitabiah. Karya fiksi yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan dan Alkitab. Bahkan, ketika menulis naskah drama, puisi, dan karya sastra lainnya, tulisan yang mengutamakan nilai-nilai Alkitab sangat diperhatikan di tempat ini. Ketika saya dan kawan-kawan menulis, kami tidak dibiarkan asal menulis, kami diorientasi, dilatih, dan dibina agar mampu bekerja dengan sebaik mungkin oleh para mentor.

Tugas yang paling menarik bagi saya selama dua bulan ini adalah menulis renungan. Selama di kampus, saya hanya menulis isu-isu seputar kehidupan sesuai teori-teori sastra, tetapi di YLSA sedikit berbeda, yaitu dengan mengutamakan nilai-nilai atau unsur-unsur kekristenan. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, saya harus melewati tiga kali revisi dan beberapa kali tinjauan dari para mentor. Hasilnya, penulisan renungan saya menjadi tulisan yang menarik dan memberkati orang lain agar mengenal kasih Kristus.

YLSA tidak semata-mata berfokus pada kinerja staf saja. Selama menjalani dua bulan magang di sini, saya mendapat pertumbuhan rohani karena adanya persekutuan staf setiap Senin dan Jumat, lalu pendalaman Alkitab setiap Selasa, Rabu, dan Kamis. Saya juga belajar tentang kedisiplinan dalam mengerjakan tugas dan memenuhi tenggat waktu (deadline). Tidak hanya itu, kedisiplinan dalam hidup sehari-hari juga harus saya perhatikan. Di tempat ini, saya belajar membangun relasi yang berkeluargaan. Saya mampu melihat sudut pandang yang berbeda dari setiap orang, dan melatih diri saya untuk secara cepat beradaptasi dengan orang-orang baru. Selain itu, saya juga bisa ikut roadshow untum gerakan #Ayo_PA! di salah satu acara retret universitas di Solo.

YLSA memberi dan membuka kesempatan bagi saya dan teman-teman untuk mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah kami temui, dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Dua bulan, meskipun singkat, sesungguhnya menjadi pengalaman yang sangat bermakna dan bernilai bagi saya dan teman-teman. Banyak yang terjadi selama dua bulan. Kesempatan yang sangat berharga untuk mempersipkan kami menapaki hari esok yang penuh dengan kejutan dan harapan. Terima kasih YLSA.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/11/20/pengalaman-magang-dua-bulan/feed/ 0