Blog SABDA http://blog.sabda.org melayani dengan berbagi Mon, 22 May 2017 00:33:15 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.4 Sudahkah kita “Memiliki Hati Seperti Hati Tuhan Yesus”? http://blog.sabda.org/2017/05/22/sudahkah-kita-memiliki-hati-seperti-hati-tuhan-yesus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sudahkah-kita-memiliki-hati-seperti-hati-tuhan-yesus http://blog.sabda.org/2017/05/22/sudahkah-kita-memiliki-hati-seperti-hati-tuhan-yesus/#comments Mon, 22 May 2017 00:33:15 +0000 Santi http://blog.sabda.org/?p=7988

Dalam pengalaman hidup kita, pasti kita pernah bertemu dengan seseorang yang sakit parah. Bagaimana respons kita terhadapnya? Apakah kita hanya bergumam bahwa kondisinya memprihatinkan? Atau, kita meresponinya selangkah lebih maju dengan mendoakannya? Ketika mendoakannya, apakah kita mendoakan untuk kesembuhan fisiknya saja atau juga untuk kondisi rohaninya? Sebenarnya, seseorang bisa merespons dengan banyak cara sesuai dengan kepekaan dan sikap hatinya. Apa respons Yesus terhadap kondisi seperti ini?

Dari seminar "Memiliki Hati seperti Hati Tuhan Yesus", yang saya ikuti di Griya SABDA pada 3 April 2017, saya belajar lebih mendalam mengenai hati Yesus dari melihat berbagai pelayanan yang dilakukan-Nya. Penekanan materi yang disampaikan oleh Pdt. Yuzo Adinata (Rektor STTRI) dalam seminar ini adalah hati Yesus yang penuh dengan belas kasihan. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan terhadap orang banyak, mulai dari orang yang sakit (Matius 14:14), orang yang lapar (Matius 15:32), orang yang buta (Matius 13), orang yang sakit kusta (Markus 1:41), orang yang kerasukan setan (Markus 9:32), seorang janda di Naim (Lukas 7:13), orang-orang yang terdapat dalam perumpamaan "orang yang berhutang banyak", "orang Samaria yang baik hati", "anak yang hilang", hingga orang-orang ("domba") yang membutuhkan kepemimpinan Kristus. Melalui pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menyingkapkan kepada kita bahwa ketika Ia berada di antara mereka, Ia tidak melihat keadaan mereka sebagai kesulitan, tetapi sebagai kebutuhan. Ketika Yesus bisa melihat adanya kebutuhan dalam diri orang-orang tersebut, Ia akan melakukan hal-hal yang sangat dibutuhkan mereka, bukan hanya memberikan kesembuhan, pemulihan, kebebasan, melainkan kasih.

Cara pandang manusia memang berbeda dengan cara pandang Yesus, dan cara pandang inilah yang akhirnya akan menentukan cara berpikir dan tindakan kita. Jika manusia melihat kondisi yang tidak menyenangkan sebagai kesulitan, Yesus justru melihatnya sebagai kebutuhan dan kesempatan untuk menyatakan kasih. Mari kita merenungkan sejenak, apakah kita sudah memiliki hati seperti Yesus ketika kita melayani? Apakah hidup kita dipimpin oleh Tuhan atau keinginan diri sendiri?

Melalui seminar ini, saya diingatkan betapa pentingnya memiliki hati yang berbelas kasih ketika melayani orang lain. Banyak hal bisa kita lakukan, tetapi melakukan dengan hati yang berbelas kasih jauh lebih berguna dan bernilai. Sebagai orang percaya, kita harus mendengarkan dan meneladani Kristus supaya cara pandang dan tindakan kita seturut dengan kehendak dan isi hati-Nya.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/05/22/sudahkah-kita-memiliki-hati-seperti-hati-tuhan-yesus/feed/ 0
Perayaan Paskah YLSA dan +TED@SABDA Tim Pembinaan: Passion for The Christ http://blog.sabda.org/2017/05/05/perayaan-paskah-ylsa-dan-edsabda-tim-pembinaan-passion-for-the-christ/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perayaan-paskah-ylsa-dan-edsabda-tim-pembinaan-passion-for-the-christ http://blog.sabda.org/2017/05/05/perayaan-paskah-ylsa-dan-edsabda-tim-pembinaan-passion-for-the-christ/#comments Fri, 05 May 2017 00:32:29 +0000 Okti http://blog.sabda.org/?p=7913

Ada yang berbeda dari acara Paskah YLSA tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya acara Paskah YLSA hanya dirayakan oleh staf YLSA beserta tamu undangan saja, tahun ini acara Paskah YLSA dirangkai bersama dengan acara +TED @SABDA untuk dirayakan bersama-sama mitra dan Sahabat YLSA. Mengangkat tema "Passion for The Christ", Tim Pembinaan yang menjadi penyelenggara acara berharap peserta yang hadir akan semakin bergairah mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama dengan waktu, tenaga, pemikiran, dan talenta yang mereka miliki. Kristus sudah mati bagi kita, mari kita hidup bagi Dia.

Acara berlangsung sedikit terlambat sore itu karena hujan yang turun semenjak pukul setengah empat sore. Peserta yang tadinya diperkirakan akan hadir sekitar 50 orang menyusut menjadi sekitar 40 orang, khususnya peserta dari luar kota. Acara dimulai pada pukul 17.15. Tim Pembinaan yang diwakili oleh saya sebagai Koordinator membuka acara dengan sambutan dan perkenalan panitia, MC, dan moderator, lalu disambung dengan pemutaran video profile Tim Pembinaan. Acara yang dipandu oleh MC, yaitu Ayub, memulai dengan pujian dan doa pembukaan. Sesudah itu, moderator pertama, Tika, memulai +TED sesi satu dengan pemutaran video kesaksian Jim Caviezel, aktor utama dalam film Passion of The Christ. Walaupun saya sudah pernah menonton video ini sebelumnya, saya tidak pernah menjadi bosan, karena video ini sangat memberi dorongan untuk saya semakin menghargai dan memaknai karya pengorbanan Kristus yang begitu berharga.

Sesudah menyaksikan video, acara dilanjutkan dengan mendengar presentasi dari dr. Yudhie Chandra yang membawakan materi "Sisi Medis Penyaliban Tuhan Yesus" serta presentasi kedua dari Pdt. Andi Halim mengenai Teologi Reformed. Setelah tanya jawab dengan kedua presenter dan penyerahan kenang-kenangan dari panitia, acara kemudian beralih pada ibadah Paskah, yang diisi dengan pujian, renungan, dan doa Paskah. Renungan Paskah yang berjudul sama dengan tema acara, "Passion for The Christ" dibawakan oleh Wahyu Kriscahyanto. Beliau adalah sahabat YLSA yang juga mengambil bagian sebagai panitia sie acara pada +TED@SABDA ini dan pernah mengisi acara +TED Oktober 2016. Sesudah ibadah Paskah selesai, kami rehat sejenak untuk makan malam bersama.

+TED sesi dua, yang dimoderatori oleh Odysius, lebih banyak membahas tentang materi pembinaan sebagai wujud aplikasi dari panggilan Allah bagi orang-orang percaya. Bapak Arie Saptaji, seorang penulis Kristen dari Yogyakarta tampil untuk membawakan presentasi yang berjudul "Proses Kreatif Menulis Renungan". Sesudah itu, Ibu Yulia, ketua YLSA, mempresentasikan materi "Misi pada Era Digital". Presentasi ditutup dengan materi "Pemuridan abad 21" yang dibawakan oleh Santi, koordinator Tim Penjangkauan. Setelah acara tanya jawab dan pemberian kenang-kenangan dari panitia, acara kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama dengan seluruh peserta.

Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan melalui acara Paskah dan +TED @SABDA kali ini. Pertama, saya jadi banyak tahu tentang seluk beluk mengatur acara setelah terlibat dalam sie acara. Kedua, saya belajar banyak dari sisi membuat strategi dan perencanaan untuk melangsungkan acara, dimulai dari menentukan tema acara, menentukan kepanitiaan, menentukan tugas-tugas untuk kepanitiaan, menghubungi pembicara, membuat konsep video, brosur, dan rundown acara, dengan memperhatikan detail-detailnya, dan juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada. Yang ketiga, saya mendapat berkat melalui materi-materi yang disampaikan oleh para pembicara, yang memberikan wawasan serta pertanyaan bahkan pergumulan baru di benak saya. Di atas semua itu, saya sungguh bersyukur untuk acara perayaan Paskah dan +TED@SABDA yang sudah terselenggara. Kiranya acara +TED yang menjadi media membagikan ide-ide kristiani bagi pelebaran kerajaan Allah ini akan terus menjadi berkat bagi banyak orang, dan menghasilkan dampak nyata bagi kemajuan Kerajaan Allah.

Sampai jumpa dalam +TED@SABDA pada 28 Juli 2017. Solus Christus!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/05/05/perayaan-paskah-ylsa-dan-edsabda-tim-pembinaan-passion-for-the-christ/feed/ 4
Yang Terbuang Namun Pahlawan http://blog.sabda.org/2017/05/04/yang-terbuang-namun-pahlawan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yang-terbuang-namun-pahlawan http://blog.sabda.org/2017/05/04/yang-terbuang-namun-pahlawan/#comments Thu, 04 May 2017 05:29:08 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=7905

Oleh: *Teti Zebua

"Dear Ibu Teti, terima kasih untuk partisipasi aktifnya dalam diskusi Yefta di FB Grup Bio-Kristi ..." saya mendapat pesan dari Mbak Okti sesaat setelah diskusi mengenai tokoh Yefta tersebut selesai. Meski saya tidak terlalu suka dipanggil ibu, namun saya sangat menyukai keramahtamahan yang beliau berikan pada semua peserta diskusi.

Mengupas tentang Yefta sebagai salah seorang hakim di antara bangsa Israel, ingatan saya melayang pada kisah seorang teman yang baru saja kehilangan semua hal berharga dalam hidupnya; sanak saudara, istri, dan pekerjaannya dikarenakan ia memutuskan untuk memercayai Yesus dan meninggalkan kepercayaan lamanya. Betapa menyakitkan dibuang oleh keluarga sendiri. Diusir dari rumah dan kehilangan segalanya. Bertolak dari kisah teman saya itu, saya membayangkan Yefta yang diusir dari rumah ayahnya oleh saudara-saudaranya. Ia pasti sangat sakit hati dan mungkin berjanji tidak akan kembali lagi ke rumahnya ataupun tanah kelahirannya. Namun, sesuatu hal lain terjadi dan itu sungguh mengubahkan hidupnya.

Saya membuka Alkitab saya berdasarkan ayat mula-mula yang dipaparkan oleh Mbak Okti, yakni di Hakim-Hakim 11:29-31. Dari sana, saya mengetahui bahwa kisah tentang Yefta ada dalam Kitab Hakim-Hakim. Meski awalnya, saya sempat kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana dan seperti apa jalannya diskusi tersebut karena poin materi yang diberikan langsung merujuk pada inti kehidupan Yefta. Sebagai orang awam yang belum mengetahui tentang detail keseluruhan kisah di Alkitab, saya merasa kebingungan awalnya, tetapi ketika menggunakan clue ayat yang ada, saya akhirnya dapat memahami kisah perjalanan kehidupan seorang tokoh pahlawan iman Yefta ini.

Hal yang saya pelajari tentang Yefta bahwa Allah menunjukkan kemurahan-Nya dengan memakai siapa pun, dengan latar belakang apa saja untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Kebanyakan adalah seseorang yang memiliki kehidupan masa lalu yang kelam, justru ketika tiba waktu-Nya, Allah menunjukkan kasih-Nya dengan memberi seseorang tersebut sebuah kehormatan yang tidak terduga jika dipikirkan secara akal manusia. Dalam kasus Yefta, dulunya ia adalah anak seorang sundal, dan oleh anugerah Allah, ia ditemui kembali oleh kerabatnya dan diangkat menjadi pemimpin bagi suku bangsanya ketika mereka ketakutan menghadapi musuh orang Amon. Bahkan, Alkitab mencatat bahwa Yefta adalah salah seorang pahlawan yang gagah perkasa pada saat itu (Ibrani 11). Apa yang hina bagi pandangan manusia justru itulah yang dipakai Tuhan. Bukankah Allah itu sungguh setia dan adil? Pemurah juga penyayang?

Karakter Yefta yang tetap mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan juga memberikan peneguhan, bahwa dalam memulai sesuatu haruslah menyerahkan sepenuhnya di tangan Allah sumber segala kemenangan. Di sisi lain, sikap patuh dan setia yang dimiliki Yefta dalam menggenapi nazarnya kepada Allah, juga memberikan "insight" tersendiri bagi saya. Mengajarkan saya untuk tidak bermain-main dengan janji yang pernah saya ucapkan, dan itu harus ditepati.

Pada intinya, setiap kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memulai segala sesuatu yang baru dalam hidup akan memimpin pada kehormatan dan kemuliaan yang Tuhan sendiri sediakan bagi kita. Hanya jika kita terus berpegang kepada-Nya, memercayai-Nya, dan terus mengarahkan pandangan kita hanya kepada-Nya. Taat dan setia pada pimpinan-Nya.

Meski akhirnya diskusi ini berakhir, saya bersyukur menjadi bagian dari pengalaman iman Yefta dan juga sharing pengalaman dari teman-teman peserta lainnya. Alangkah lebih baik jika di bagian akhir sesi diskusi, moderator memberikan kesimpulan dari semua rangkuman pendapat dalam diskusi tersebut.

Ad Maioreim Dei Gloriam.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/05/04/yang-terbuang-namun-pahlawan/feed/ 2
Staf YLSA Mengikuti Seminar “Tetap Memberkati Walau Sendiri” http://blog.sabda.org/2017/04/04/staf-ylsa-mengikuti-seminar-tetap-memberkati-walau-sendiri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=staf-ylsa-mengikuti-seminar-tetap-memberkati-walau-sendiri http://blog.sabda.org/2017/04/04/staf-ylsa-mengikuti-seminar-tetap-memberkati-walau-sendiri/#comments Tue, 04 Apr 2017 06:16:19 +0000 aji http://blog.sabda.org/?p=7897

Keputusan hidup single (tidak menikah) adalah keputusan yang diambil sebagian orang, termasuk orang Kristen. Namun, pengambil keputusan ini tergolong minoritas sehingga diskusi mengenainya juga tak banyak diangkat. Gereja lebih sering mengadakan seminar mengenai kehidupan suami-istri atau keluarga, ketika subjek mengenai singleness ini penting bagi orang-orang yang sudah atau sedang mempertimbangkan untuk menjalani hidup selibat.

Bersyukur, ada seminar tentang topik singleness yang dapat dikatakan cukup langka ini. Seminar tersebut diadakan di Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), Solo, pada Sabtu, 1 April 2017. Saya turut hadir dalam seminar tersebut karena ingin mengetahui bagaimana memanfaatkan masa single yang membawa berkat bagi sesama dan lingkungan. Seminar ini dibawakan oleh Ev. Asriningrum Utami, seorang dosen dari STTRI Jakarta, dan satu dari sedikit hamba Tuhan yang memutuskan untuk hidup selibat. Judul seminar tersebut: "Tetap Memberkati Walau Sendiri".

Ibu Utami membuka seminar ini dengan memaparkan satu fakta bahwa orang single sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dan kondisi kesendirian mereka menjadi kondisi yang sepertinya patut mendapat belas kasihan dari orang lain. Pandangan tersebut salah, menurut beliau, karena hidup single adalah salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tertentu berdasarkan maksud dan rancangan-Nya. Namun, akibat stereotip yang kurang baik ini, sebagian orang single menjadi kurang mampu menjalani kesendiriannya secara efektif bagi kemuliaan Tuhan.

Lalu, seperti apakah tanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat? Ibu Utami menjelaskan bahwa tanda ini bisa berupa: tiadanya kesempatan orang lain tertarik kepada kita atau tidak adanya pendekatan serius dari lawan jenis kita. Dalam hal ini, langkah terbaik adalah mencari kehendak Allah. Kita mesti berdoa dan bertanya apakah kondisi demikian adalah pertanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat. Selebihnya, tunggulah waktu Tuhan untuk menyatakan rancangan-Nya dalam kehidupan kita.

Ibu Utami lantas menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa orang-orang single eksis di tengah masyarakat, di antaranya: karena keterbatasan fisik dan psikis, pengalaman-pengalaman traumatis (ex: sexual violence), kemauan sendiri oleh karena Kerajaan Surga, dan ketetapan Allah bagi orang tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa ada pekerjaan Allah yang memang perlu dinyatakan melalui singleness. Misalkan, untuk melakukan pekerjaan Allah di daerah konflik, yang memerlukan seorang hamba Tuhan yang tidak dibebani oleh persoalan keluarga. Apa pun yang menjadi alasan, Ibu Utami mengatakan bahwa hidup single bisa dimanfaatkan sebaik mungkin bagi Kerajaan Allah, asalkan seorang yang single selalu bersandar pada Allah dan memohon bimbingan dalam menjalankan keputusan hidupnya.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah penjelasan beliau mengenai salah satu peranan orang single, yaitu sebagai cermin bagi pasangan yang menikah. Orang-orang yang menikah pada umumnya lebih terjebak pada menggantungkan diri pada pasangan, sementara orang single lebih condong bergantung pada Allah karena mereka hidup dalam kesendiriannya. Ini menjadi satu keuntungan orang single. Namun, di pihak lain, pasangan yang menikah juga bisa menjadi cermin bagi orang single untuk menunjukkan bahwa anak-anak Allah selalu membutuhkan persekutuan agar mereka merasa penuh sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Itu artinya, kedua kelompok ini sebetulnya bisa belajar satu sama lain, dan berdasarkan fakta ini, orang single tak seharusnya perlu merasa rendah diri kepada mereka yang memutuskan menikah/berkeluarga.

Materi terakhir yang Ibu Utami sampaikan adalah mengenai bagaimana menjalani singleness dengan berkelimpahan. Pertama, harus memiliki konsep yang benar dulu tentang singleness. Naikkan syukur untuk kondisi singleness karena kesendirian adalah salah satu karunia Tuhan, yang melaluinya kemuliaan Tuhan dapat dinyatakan. Kedua, harus melibatkan Tuhan dalam jatuh bangun menjalani tugas-tugas perkembangan hidup--mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa--sehingga orang-orang single bisa mengalami kekayaan pengalaman berjalan bersama Tuhan, dan membagikan kebijaksanaan yang didapat kepada orang lain. Ketiga, bangun support system. Masuklah ke dalam persekutuan yang saling mendukung dan mengasihi karena kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri, apalagi dalam konteks mengerjakan pelayanan. Dan, keempat, libatkan diri dalam pelayanan untuk Tuhan. Proaktif untuk mengerjakan pelayanan-pelayanan dengan memanfaatkan keleluasaan dan kemandirian sebagai orang single.

Dengan mengikuti seminar ini, saya bisa menyimpulkan bahwa orang single juga dapat dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya, dan sebagian orang ditentukan Allah (untuk menjadi single) karena ada rencana-Nya yang harus dikerjakan melalui kesendirian orang tersebut. Orang-orang single bisa menjadi model kebergantungan kepada Allah bagi pasangan yang menikah, dan sebaliknya pasangan yang menikah bisa menjadi model persekutuan anak-anak Allah bagi orang single. Keduanya ada agar bisa saling belajar. Bagi orang single, kiranya apa yang disampaikan oleh Ibu Utami bisa menjadi peneguhan bahwa kesendirian mereka adalah sebagian rencana Tuhan untuk mendukung pekerjaan-Nya. Kiranya Tuhan sendiri akan memampukan sebagian kita yang memilih hidup single sehingga hidup kesendirian kita senantiasa dipenuhkan dan bisa membawa berkat bagi sesama.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/04/04/staf-ylsa-mengikuti-seminar-tetap-memberkati-walau-sendiri/feed/ 1
Staf YLSA Mengikuti Seminar “Allah dan Kebebasanku” http://blog.sabda.org/2017/03/31/staf-ylsa-mengikuti-seminar-allah-dan-kebebasanku/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=staf-ylsa-mengikuti-seminar-allah-dan-kebebasanku http://blog.sabda.org/2017/03/31/staf-ylsa-mengikuti-seminar-allah-dan-kebebasanku/#comments Fri, 31 Mar 2017 01:27:23 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=7883

Oleh: *Widodo

Seminar "Allah & Kebebasanku" oleh Vik. Harly Erikson Tambunan di Gedung Orient, Surakarta (20/3/2017), adalah seminar pertama yang saya ikuti sejak berada di YLSA. Kami tiba pukul 17.50 WIB, dan ternyata persiapan seminar masih berlangsung. Baru pada pukul 18.30 WIB, acara dimulai.

Ketika pembicara maju ke depan, "energi kebebasan" dari menunggu sekitar 40 menit seperti dikembalikan kepada kami bertiga yang hadir dari YLSA (saya, Kun, dan Benny). Pembicara yang sering melayani kaum muda di GRII Jakarta ini sangat pas membawakan tema "Allah & Kebebasanku". Beliau bersemangat, enerjik, dan ekspresif dalam menyampaikannya. Ilustrasi-ilustrasi yang diberikan juga sangat sederhana dan mudah dipahami oleh semua yang hadir. Ada sekitar tiga ratusan orang yang hadir, baik yang berlatar belakang awam, sekolah teologi, maupun aktivis gereja.

Tema yang awalnya terasa umum dan biasa saja, ketika digali, ternyata membuka sebuah pemahaman yang baru. Pada awal seminar, Pak Harly melemparkan dua pilihan pernyataan kepada peserta, yaitu "kebebasan yang mengikat" atau "ikatan yang membebaskan". Seperti biasa, dua pilihan yang sepertinya sama akan menimbulkan dilema. Audiens terbagi ke dalam dua kubu. Manusia diciptakan Allah dengan kebebasan, potensi daya cipta dan cinta. Kebebasan adalah tema yang sangat umum digunakan untuk menggalang massa. Pada waktu manusia masih berada di taman Eden, Iblis sudah melemparkan isu kebebasan untuk memperoleh massa. Hingga kini, kampanye-kampanye politik juga menyuarakan tema kebebasan untuk memperoleh hal yang serupa. Akan tetapi, ada satu kata kunci yang menentukan apakah kebebasan itu benar atau salah, memberi kepuasan atau justru keliaran. Kata kunci itu adalah "aturan". Ilustrasi yang diberikan adalah tentang keinginan seorang anggota geng motor untuk bebas. Ia ingin bebas berkendara tanpa aturan, tanpa helm, tanpa SIM, modifikasi motor sesukanya, dan tanpa lampu lalu lintas. Tentu saja, ilustrasi ini sangat mudah dipahami, tanpa helm dan lampu lalu lintas pasti akan fatal. Itulah perbedaan kebebasan yang ditawarkan Allah dengan kebebasan yang ditawarkan Iblis. Lalu, apakah aturan dari Allah? Tidak banyak, hanya satu, yaitu menggenapi tujuan yang telah ditetapkan Allah bagi manusia. Lalu, apakah tujuan hidup manusia? Tidak banyak juga, untuk menikmati (bukan menikmati berkat Tuhan, melainkan Sumber berkatnya) dan memuliakan keberadaan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup manusia. Keduanya disingkat menjadi RELASI dengan Tuhan. Jadi, kebebasan manusia adalah kebebasan untuk berelasi dengan Tuhan.

Saya sangat diberkati dengan pemaparan tersebut. Saya dibawa ke dalam sebuah kesimpulan bahwa manusia yang diciptakan Allah dengan potensi daya cipta dan kasih, bebas mengekspresikan diri dalam berelasi dengan Tuhan. Disadari atau tidak, manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah. Oleh karena itu, kalau Anda suka bermusik, bermusiklah untuk Tuhan. Bagi yang suka menulis, menulislah untuk kemuliaan Tuhan. Manusia bebas berekspresi, tetapi untuk satu tujuan yang telah ditetapkan sejak awal mula penciptaan, yaitu BERELASI DENGAN TUHAN. Tuhan Yesus memberkati.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/03/31/staf-ylsa-mengikuti-seminar-allah-dan-kebebasanku/feed/ 2