Blog SABDA http://blog.sabda.org melayani dengan berbagi Mon, 21 Aug 2017 08:16:13 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.4 Pemahaman yang Diubahkan — Konvensi Nasional Reformasi 500, Semarang http://blog.sabda.org/2017/08/21/pemahaman-yang-diubahkan-konvensi-nasional-reformasi-500-semarang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemahaman-yang-diubahkan-konvensi-nasional-reformasi-500-semarang http://blog.sabda.org/2017/08/21/pemahaman-yang-diubahkan-konvensi-nasional-reformasi-500-semarang/#comments Mon, 21 Aug 2017 07:42:32 +0000 Hilda http://blog.sabda.org/?p=8215

Oleh: Hilda

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ikut Grand Concert Tour Jakarta Simfonia Orchestra yang diadakan di Solo. Saya sangat terkesan dengan pribadi Pdt. Stephen Tong yang sangat mengapresiasi musik serta cara beliau memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberitakan Injil. Muncullah ketertarikan saya untuk mengenal lebih dalam tentang pengajaran reformed dan bagaimana pengajaran tersebut dapat mengubahkan pribadi dan sudut pandang beliau. Berangkat dari rasa penasaran tersebut, Tuhan menjawab doa saya. Saya diberi kesempatan bersama Ibu Yulia, Aji, dan Maskunarti untuk mengikuti acara Konvensi Nasional Reformasi 500 -- "Reformasi dan Dinamika Sejarah" yang diadakan di Hotel UTC, Semarang.

Acara dibuka dengan kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Stephen Tong. Beliau menceritakan bahwa Semarang adalah kota tempat beliau mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang pertama, yaitu 66 tahun yang lalu. Sekarang Semarang dipilih untuk menjadi salah satu tempat memperingati 500 Reformasi. Semangat beliau saat ini tetap sama seperti 66 tahun yang lalu. Kiranya semangat ini membakar kembali semangat gereja untuk tetap setia kepada firman Tuhan.

Ada dua poin penting yang dikerjakan oleh Reformasi. Pertama, Tuhan merobohkan sistem gereja yang salah melalui pelayanan Martin Luther. Kedua, Tuhan membangun kembali sistem gereja yang benar melalui pelayanan John Calvin.

Sesi 1 dan 2 dibawakan oleh Pdt. Jimmy Pardede yang membahas tentang Soli Deo Gloria (Kemuliaan Hanya bagi Tuhan) dan Fungsi Gereja di Dunia. Pada zaman Marthin Luther, gereja mengajarkan bahwa Allah adalah hakim yang menghukum dan pemberi surga. Luther menentang konsep ini karena ia tahu bahwa Tuhan yang dikenalnya adalah Tuhan yang justru ingin dekat dan mengenal manusia lebih dari keinginan manusia untuk dekat kepada-Nya. Kedekatan inilah yang menghasilkan pertobatan, yang akan memampukan kita memaknai kemuliaan Allah yang tertinggi, yaitu menjadi yang terendah dengan mati di kayu salib. Saat itu, gereja yang seharusnya bertugas menyatakan Kristus di tengah-tengah jemaat malah sibuk mengurus soal materi duniawi.

Sesi 3 dan 4 dibawakan oleh Pdt. Ivan yang membahas tentang bagaimana Reformasi Protestan muncul dan bagaimana dampak sosialnya. Reformasi lahir karena adanya keresahan yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri orang-orang yang setia kepada Tuhan terhadap penyelewengan yang dilakukan oleh gereja dalam pengajaran dan praktiknya. Munculnya teknologi mesin cetak juga semakin mempermudah viralnya semangat perubahan sehingga semakin banyak jemaat yang menyerukan "REFORMASI!" Ketika anak-anak Tuhan mencintai Tuhan dengan mengerti firman-Nya, dunia akan diubahkan. "Gereja yang ber-impact" inilah tujuan utama Reformasi. Reformasi gereja tidak hanya berdampak pada gereja, tetapi juga dunia. Reformasi telah memengaruhi cara manusia bersikap terhadap dunia, etika kerja, supremasi hukum, demokrasi, kesetaraan, dan desentralisasi kekuasaan dll.

Pada sesi 5 dan 6, kami sempat dibuat tegang dengan pembahasan yang dibawakan oleh Pdt. Agus Marjanto karena beliau begitu berapi-api. Topik yang dibawakannya adalah Sola Scriptura (Only the word of God) dan Sola Christus (Only Christ). Berkali-kali beliau menegaskan bahwa isu sesungguhnya dari reformasi adalah pentingnya kata SOLA (Only). Gereja pada zaman Martin Luther mengakui Alkitab sebagai otoritas kebenaran, dan Kristus sebagai Juru Selamat. Namun, gereja tidak mengakui bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas bagi iman dan hidup orang Kristen. Gereja mengajarkan Alkitab tidak cukup. Karena itu, perlu ditambah dengan tradisi (banyak aturan gereja). Reformasi menegaskan bahwa karya Kristus telah sempurna dan satu-satunya untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa dan Alkitab adalah satu-satunya otoritas final.

Kemudian, sesi 7 oleh Pdt. Antonius Un yang membahas tentang Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah). Ada tiga aspek anugerah, yaitu anugerah kasih Kristus yang datang untuk mati menanggung dosa manusia, anugerah kasih Bapa yang merelakan Anak-Nya Yang Tunggal itu, dan anugerah kasih Roh Kudus yang dengan sabar membuka hati manusia untuk menerima keselamatan. Sesi 8 dilanjutkan dengan nonton bersama film kisah pertobatan Martin Luther yang memperjuangkan reformasi gereja dan penerjemahan Alkitab dalam bahasa Jerman.

Saya bersyukur bisa mengikuti dan belajar banyak dari Konvensi 500 Tahun Reformasi ini. Saya menyadari bahwa pemahaman tentang doktrin gereja saya sangatlah dangkal.Belajar dari sikap Luther, saya perlu lebih kritis terhadap pengajaran gereja, "Apakah gereja saat ini masih setia pada Alkitab?" Saat ini, gereja sebenarnya juga sedang menghadapi isu-isu yang sama, tetapi dengan kemasan "kekinian". Aplikasi yang paling praktis bagi saya adalah mendekat kepada Tuhan dengan menikmati firman-Nya sehingga saya tidak lagi diombang-ambingkan angin pengajaran. Ayo lahirkan reformasi baru! Tuhan Martin Luther adalah Tuhan kita juga! Ia bisa memakai kita seperti Ia telah memakai Luther!

Semoga tulisan saya ini dapat membangkitkan semangat dan menjadi berkat bagi pembaca setia Blog SABDA. Soli Deo Gloria!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/08/21/pemahaman-yang-diubahkan-konvensi-nasional-reformasi-500-semarang/feed/ 0
Progsif tentang Alkitab vs. Deuterokanonika http://blog.sabda.org/2017/08/11/pengalamanku-mengikuti-progsif-alkitab-vs-deuterokanonika/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengalamanku-mengikuti-progsif-alkitab-vs-deuterokanonika http://blog.sabda.org/2017/08/11/pengalamanku-mengikuti-progsif-alkitab-vs-deuterokanonika/#comments Fri, 11 Aug 2017 00:00:59 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8183

Oleh:*Jovita

Hari pertama Agustus 2017 belum berakhir, tetapi beberapa staf YLSA beserta enam mahasiswa magang dari Universitas Kristen Petra telah bersiap di depan kantor SABDA begitu jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Program Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) memang terlalu berharga untuk dilewatkan. Di jalanan yang tidak begitu ramai, kami meluncur menuju hotel Megaland Solo, tempat acara diadakan. Di sana, saudara-saudara seiman yang rindu belajar kebenaran-Nya sudah duduk rapi menghadap layar proyektor yang sebentar lagi akan menampilkan "life-relay" seminar yang digelar di Surabaya.

Tepat pukul 18.30 WIB acara dimulai. Dengan intonasi yang tenang, tetapi tegas, Pdt. Aiter, M.Div. menyampaikan topik Alkitab vs. Deuterokanonika, sebuah tema sensitif yang tak lazim dibahas, baik oleh kaum Protestan maupun Katolik sendiri. Beliau mulai dengan menjelaskan istilah-istilah penting yang akan dipakai sepanjang pembahasan materi, antara lain kanon, protokanonika, deuterokanonika, apokrifa, pseudepigrafa, dan septuaginta (LXX).

- Kanon, secara harfiah artinya tongkat pengukur, merupakan ketetapan daftar kitab yang diakui sebagai firman Allah (diinspirasikan oleh Roh Kudus).

- Protokanonika adalah proses kanonisasi yang pertama (Yunani: protos - first). Protokanonika menetapkan atau mengakui kitab orang Yahudi (yang sekarang menjadi seluruh PL dalam Alkitab kita) sebagai firman Allah. Kitab Yahudi tersebut terbagi menjadi 3 kategori: Torah (T), Nebiim (N), Ketubim (K).

- Apokrifa mencakup kitab-kitab yang tidak diakui otoritas ilahinya dan ditolak dalam protokanonika.

- Deuterokanonika ialah kanonisasi kedua karena rupanya ada bapa-bapa gereja yang tidak puas dengan protokanonika. Mereka beranggapan ada kitab-kitab lain yang seharusnya diakui sebagai firman Allah. Maka, deuterokanonika memasukkan apokrifa ke dalam kanon mereka.

- Pseudepigrafa merupakan tulisan yang dibuat dengan mengatasnamakan orang lain yang berpengaruh pada zamannya.

- LXX adalah Alkitab PL versi bahasa Yunani (kitab-kitab Yahudi yang berbahasa Ibrani).

Para penulis Injil, rasul-rasul, bahkan Yesus sendiri, sering mengutip bagian tertentu dari kategori T, N, maupun K. Artinya, kitab protokanonika tersebut diakui keabsahannya, Tuhan mengonfirmasi semua sebagai Firman-Nya. Sementara, tak satu pun dari kitab Apokrifa pernah dikutip dalam PB. Pdt. Aiter mengupas satu per satu kejanggalan dan kontradiksi dalam Apokrifa, serta ucapan penting yang menjadi doktrin Katholik.

Pertama, ada Tobit yang mengklaim dirinya sebagai orang saleh. Ia mengaku pergi ke Yerusalem sendiri untuk merayakan ibadah pada hari raya Yahudi. Ia sering menguburkan mayat orang sebangsanya yang terhampar di tempat umum (dari sini muncullah keyakinan bahwa orang mati memerlukan pertolongan dari orang hidup). Belakangan, Tobit buta karena matanya tertimpa kotoran burung, sementara menantunya, Sara, kerasukan setan. Ia menyuruh anaknya, Tobia, pergi ke Gabael meminta perak yang pernah dititipkan dengan jaminan surat perjanjian tertentu (bentuk perjanjian semacam ini tak pernah dicatat dalam fakta sejarah zaman PL). Lalu, muncullah tokoh malaikat Rafael yang berbohong mengenai nama dan asalnya, ia mendampingi perjalanan Tobia (dari sini berkembang kepercayaan adanya malaikat pelindung). Padahal, tak pernah ada dalam kisah PL mana pun bahwa malaikat yang diutus Allah tinggal lama di bumi, bahkan berbohong. Dalam Tobit juga diajarkan bahwa bersedekah bisa melepaskan orang dari maut.

Selain itu, ada kitab Sirakh. Di sana, tertulis bahwa menghormati bapa (bapa manusia, bukan Allah) akan memulihkan dosa. Hal ini bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri.

Dalam 2 Makabe 12:42-43 muncul ajaran untuk mendoakan orang mati secara lebih eksplisit, serta uang persembahan untuk menghapus dosa.

Lalu, ada juga Tambahan Kitab Ester, yang banyak bagiannya justru bertentangan dengan Ester yang sudah ada. Misalnya, dalam kitab Ester dicatat bahwa Mordekhai tidak mendapat apa pun atas laporannya yang menyelamatkan nyawa raja. Baru belakangan ia diarak sebagai bentuk penghormatan. Sementara itu, Tambahan Ester menuliskan bahwa Mordekhai memperoleh hadiah besar atas tindakan tersebut.

Kitab Yudit sangat meninggikan seorang wanita Ibrani. Hal ini tidak pernah ada dalam kebiasaan maupun sastra Yahudi mana pun. Di sana dikisahkan Yudit berbohong, serta membunuh seorang pemimpin besar musuh Israel bernama Holofernes. Nama itu juga tidak ditemukan dalam catatan sejarah mana pun, berbeda dengan kisah Alkitab lain yang dapat dikonfirmasi lewat dokumen Timur Tengah Kuno.

Apokrifa sarat dengan nuansa mengutamakan perbuatan baik manusia, amal dapat menyelamatkan, dan sejenisnya. Pesan teologis ini bertentangan dengan kanon yang pertama. Secara struktur literer dan narasi peristiwa, banyak terdapat keganjilan. Itulah yang membuat sebagian orang menolak otoritas deuterokanonika meski banyak juga kelompok lain yang mengakuinya.

Sebagai orang beriman, hendaknya dengan tekun kita mempelajari Alkitab -- sebab dari sanalah iman timbul -- bukan hanya untuk memuaskan intelektual, tetapi demi mengejar pengenalan akan Allah dan Firman-Nya. Kiranya yang saya bagikan ini bisa menolong dan membukakan hati dan pikiran kita. Soli Deo Gloria!

]]>
http://blog.sabda.org/2017/08/11/pengalamanku-mengikuti-progsif-alkitab-vs-deuterokanonika/feed/ 0
+TED@SABDA: PEMURIDAN ABAD 21 http://blog.sabda.org/2017/08/09/ted-sabda-pemuridan-abad-21/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ted-sabda-pemuridan-abad-21 http://blog.sabda.org/2017/08/09/ted-sabda-pemuridan-abad-21/#comments Wed, 09 Aug 2017 00:00:47 +0000 Evi http://blog.sabda.org/?p=8163

Oleh: Davida

Tiga tahun terakhir dari masa hidupnya 33 tahun di dunia, Yesus memfokuskan pelayanannya untuk memuridkan 12 murid-Nya supaya mereka bisa melanjutkan tugas pelayanan yang telah dimulai-Nya di bumi. Sebelum Yesus naik ke surga, Dia memberikan perintah untuk menjadikan seluruh bangsa murid-Nya. Perintah ini berlaku bagi kita semua sampai hari ini, abad ke-21 ini. Sayangnya, masih banyak orang percaya dan gereja yang tidak melihat perintah ini sebagai panggilan utama orang percaya. Seiring perkembangan zaman, Amanat Agung Tuhan Yesus ini gaungnya semakin hilang dari pendengaran kita. Seorang yang sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus dipanggil untuk menjadi murid-Nya supaya mereka pun bisa memuridkan orang lain. Seharusnya, ini menjadi hal yang alami terjadi dalam kehidupan pengikut Kristus sejati.

Melihat krisis pemuridan pada abad ke-21 ini, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) tergerak untuk menggaungkan kembali arti pemuridan dan bagaimana pemuridan dapat dilakukan dengan efektif pada era digital ini. Maka, pada 4 Agustus 2017, YLSA mengadakan +TED@SABDA dengan tema "Pemuridan Abad 21". Sebelum diadakan event ini, YLSA sudah memulai dengan membuat infrastruktur untuk mengampanyekan pemuridan melalui situs Murid21 dan komunitas @pemuridan21 (Facebook, Twitter, dan Instagram). Melalui infrastruktur ini, tubuh Kristus dapat berkolaborasi untuk mencari jawaban atas krisis dan kesempatan yang dikandung dalam pemuridan pada abad ke-21 ini.

Ada tujuh presentasi yang disajikan dalam +TED@SABDA Pemuridan Abad 21, yang materinya bisa didapatkan dalam situs murid21. Berikut ini adalah topik, pembicara, dan ringkasan dari ketujuh presentasi tersebut:

1. Arti Pemuridan Era Digital (Yulia Oeniyati)
Arti pemuridan secara alkitabiah dimulai dari Yesus yang mengundang manusia untuk mengikut Dia "follow me" (Mat. 4:19). Lalu, Ia melanjutkan dengan perintah agar kita juga mengikut teladan-Nya, membuat murid (Mat. 28:19-20). Itulah perintah terakhir yang Ia berikan agar kita semua mengerjakan pemuridan hingga hari ini.

2. Hilangnya Seni Pemuridan pada Era Digital (Hudiman Waruwu)
Pemuridan sangat penting. Setiap pengikut Yesus Kristus dipanggil menjadi murid dan memuridkan. Namun, pada era digital ini, pemuridan tidak dilaksanakan atau diprioritaskan dalam kehidupan berjemaat dengan berbagai alasan. Padahal, ada kesempatan besar untuk memanfaatkan era digital untuk pelayanan pemuridan yang bisa menjangkau siapa saja dan di mana saja dengan model dan modul yang sesuai kebutuhan konteks saat ini.

3. Pemuridan ala Kambium (Novita Andriani)
Kambium adalah metode pemuridan berbasis kurikulum yang menggunakan presentasi di kelompok besar untuk pemaparan pengajaran dan sharing di kelompok kecil untuk pelatihan penerapan dan evaluasinya.

4. Pemuridan ala U.K. PETRA Surabaya (David Kristian)
Pengalaman pribadi ketika terlibat dalam pemuridan di Universitas Kristen PETRA. Dalam pemuridan, saya mengalami dimuridkan dan memuridkan.

5. Kualitas Hidup Murid Menjadi Dasar Pelayanan Digital (Haryo K.A.)
Bahwa pelayanan digital sangat besar potensinya untuk menjangkau banyak orang dan akhirnya bisa memuridkan. Karena itu, pelayan Tuhan harus mau dimuridkan terlebih dahulu supaya dapat menjangkau orang lain. Hal ini penting untuk memperlengkapi hidup seorang murid yang hendak melayani di bidang ini supaya memiliki kuasa dalam pelayanannya.

6. Tantangan Era Digital terhadap Pemuridan (Elizabeth Nathania W.)
Setiap tantangan selalu menawarkan tersedianya peluang/kesempatan. Teknologi yang berkembang pada era digital juga menawarkan kesempatan yang besar dalam memenuhi Amanat Agung.

7. Pemuridan untuk Digital Native (Davida)
Pemuridan untuk digital native adalah panggilan bagi murid Kristus pada era digital ini. Digital native tanpa pemuridan alkitabiah adalah ancaman bagi masa depan gereja.

Saya dan teman-teman bersyukur karena acara +TED@SABDA ini dihadiri oleh hampir 100 orang. Wow, suatu "sinyal" yang bagus bagi gerakan pemuridan abad 21. Ditambah lagi, separuh dari yang hadir adalah generasi digital native (usia 24 tahun ke bawah). Sungguh menggembirakan!! Kiranya mereka mendapatkan pemahaman yang benar mengenai makna pemuridan dan bagaimana mereka HARUS melakukannya. Pertanyaan, "Apakah kita sudah menjadi murid?" dan "Bagaimana teknologi yang ada di tangan dapat menolong kita untuk menjalani proses pemuridan dan memuridkan generasi selanjutnya. Saya sendiri belajar banyak dari materi-materi yang sudah disampaikan. Intinya, pemuridan tidak hanya berbicara tentang program, tetapi sesuatu yang hidup dan berlangsung secara alami di sepanjang hidup kita sebagai pengikut Kristus. Pemuridan adalah perintah Allah bagi setiap orang percaya, dan teknologi diciptakan Allah untuk menolong agar pemuridan lebih efektif dijalankan.

Tahun ini, sudah tiga kali SABDA mengadakan +TED@SABDA secara rutin setiap 3 bulan sekali, Penjangkauan yang Kreatif (Januari), Passion for Christ (April), dan Pemuridan Abad 21 (Agustus). Puji Tuhan! Pada Oktober 2017 yang akan datang, dalam rangka ulang tahun YLSA yang ke-23, SABDA akan mengadakan Seminar "Alkitab Pintar (Alkitab yang Terbuka)". Nantikan informasi selanjutnya, dan saya mengundang Pembaca Blog SABDA untuk mendoakan serta hadir dalam acara tersebut. Terima kasih.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/08/09/ted-sabda-pemuridan-abad-21/feed/ 0
Adaptasi Awal di Tempat Magang (SABDA) http://blog.sabda.org/2017/08/03/adaptasi-awal-di-tempat-magang-sabda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=adaptasi-awal-di-tempat-magang-sabda http://blog.sabda.org/2017/08/03/adaptasi-awal-di-tempat-magang-sabda/#comments Thu, 03 Aug 2017 03:20:19 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8121

Oleh:*David Kristian

Perkenalkan, saya David, salah satu mahasiswa dari U. K. PETRA yang sedang melakukan magang di YLSA sampai 24 Agustus 2017. Tidak terasa, sebentar lagi saya akan menyelesaikan masa magang di Yayasan Lembaga SABDA. Dalam blog ini, saya ingin membagikan pengalaman awal proses magang di YLSA.

Pada awal proses magang, perasaan saya campur aduk dan bingung. Saat mendaftar magang, kiriman email saya lama tak kunjung mendapat balasan, bahkan sempat membuat saya berpikir ulang tentang kemungkinan magang di SABDA. Akhirnya, surat konfirmasi dari SABDA saya terima. Saya sangat bahagia karena sekarang saya jelas mendapat tempat magang. Eh, ternyata pergumulan masih belum selesai karena dengan magang di SABDA, saya harus mengorbankan tanggung jawab pelayanan di kampus. Namun, saya tetap bersyukur karena saya menganggap keberadaan saya di sini sudah melalui penyertaan Tuhan yang memiliki rencana buat saya dan teman-teman di sini.

"Alkitab Pintar" merupakan dua kata yang akan menjadi tema besar magang kami di SABDA. Dalam pemikiran dan perkiraan saya, hal ini adalah topik yang mudah, hanya mengembangkan apa yang sudah ada dari Alkitab SABDA, yang pada dasarnya sudah cukup pintar. Memang kami sudah diberi gambaran besar tentang apa yang akan kami lakukan untuk Alkitab Pintar nanti. Namun, ternyata persepsi saya tentang Alkitab Pintar bisa dibilang salah, saya terus terpikir “pintar" itu apa maksudnya? “Apa beda smartphone dan handphone biasa? Apa yang membedakan pintar atau tidak? Apakah berarti mengerti apa yang kita mau, atau memiliki otak yang bisa berpikir sendiri dan mendatangkan kehancuran bagi umat manusia?" Jadi, kami harus mengerti dulu konsep Alkitab Pintar, lalu memikirkan apa yang akan kami kerjakan.

Pada 27 Juni 2017, kami berenam, yaitu David, Cenius, Andy, Wilson, Hendry, dan Teddy, berangkat ke SABDA. Pengalaman magang yang bakal kami lalui selama dua bulan akhirnya bisa mulai kami rasakan. Ekspektasi saya mengenai tempat magang ini sebetulnya sangat baik karena saya sudah mendapat cerita dari Ko Cleming bahwa SABDA adalah tempat magang yang menyenangkan dan akan menolong bertumbuh secara rohani. Banyak wejangan dan cerita dari ko Cleming yang membuat saya terkesan dan sangat menantikan proses magang di SABDA ini. Bisa dikatakan saya tidak mengalami kekecewaan yang berarti meskipun tidak semua pengalaman merupakan pengalaman yang positif. Kesan saat saya tiba di sini adalah tempat ini cukup baik. Namun, kesan ini tidak bertahan lama karena saya harus tidur di tempat yang tinggi (tempat tidur susun), padahal saya takut ketinggian. Pada hari pertama, kami juga mendapat sambutan kejutan dari segerombolan semut yang menetap di langit-langit kamar yang berasal dari pohon yang tumbuh di samping kamar kami.

Karena kami tiba pada dini hari dan ketidakmampuan kami untuk tidur nyenyak, maka hari pertama magang pun kami masuki dengan kebingungan. Ada hal yang sangat baru bagi sebagian besar kami, yaitu Pendalaman Alkitab setiap pagi. Setelah itu, kami mengikuti scrum bersama staf ITS . Sempat bingung dengan apa yang mereka bicarakan, tetapi akhirnya kami mengerti apa itu scrum. Kami juga menjalani orientasi HRD dan Administrasi serta dijelaskan apa saja yang harus kami taati. Sesudah itu, kami ada banyak sekali tugas untuk belajar, khususnya hal-hal yang akan membantu kami bisa mengerjakan bagian dari proyek Alkitab Pintar yang akan kami kerjakan selama magang di SABDA ini. Hal-hal yang harus kami pelajari kebanyakan merupakan hal yang baru bagi kami. Akan tetapi, saya sendiri merasa excited untuk mendapat hal yang baru dari magang ini. Jadi, bagi saya ini merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Hari pertama magang berakhir. Kami kembali ke mess dan memiliki ekspektasi untuk bisa beristirahat dengan tenang. Ketika kami tiba di kamar, ternyata harus bergumul mengusir semut. Namun, sekali lagi ekspektasi tidak sesuai dengan realita karena kami disambut oleh teman setia lainnya, yaitu nyamuk dan tomcat. Meskipun kami sempat melewati hari-hari dengan kekhawatiran tentang magang dan serangga, kami bersyukur bisa melewati hari-hari dengan baik di sini.

Pengalaman magang kami di SABDA tentu saja tidak bisa dilepaskan dari bertemu dengan para Staf YLSA. Staf di SABDA menyenangkan dan friendly. Dari pertama datang, saya merasa disambut dengan baik. Pertanyaan yang kami lontarkan seputar pekerjaan kami, ataupun seputar Solo dijawab dengan ramah, dan mereka beberapa kali mengantar kami makan dan menunjukkan tempat makan yang mereka rekomendasikan. Saya baru tahu juga ternyata makanan di Solo enak dan murah (bila dibandingkan dengan Surabaya tentunya), sampai-sampai saya bahagia dan makan banyak karena makanannya menggoda sekali.

Bersyukur saya menjalani hari-hari di Solo dengan baik. Saya bisa menikmati setiap hal baru yang Tuhan izinkan saya lakukan. Berharap melalui proses magang di SABDA dan beberapa waktu tinggal di Solo, saya boleh mendapat pengetahuan baru dan beradaptasi dengan budaya di kota ini. Kiranya tulisan saya ini memberkati para pembaca setia blog SABDA. Tuhan Yesus memberkati.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/08/03/adaptasi-awal-di-tempat-magang-sabda/feed/ 1
Pengalaman Mengikuti Grand Concert Tour 2017 http://blog.sabda.org/2017/07/31/pengalaman-mengikuti-grand-concert-tour-2017/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengalaman-mengikuti-grand-concert-tour-2017 http://blog.sabda.org/2017/07/31/pengalaman-mengikuti-grand-concert-tour-2017/#comments Mon, 31 Jul 2017 04:36:31 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8141

Oleh: *Andy Gunawan

Nama saya Andy Gunawan. Saya kuliah di Universitas Kristen Petra, Surabaya, dan sedang mengikuti program magang di Yayasan Lembaga SABDA Solo, mulai dari 28 Juni 2017 sampai 24 Agustus 2017 nanti. Pada Kamis, 13 Juli 2017, saya dan teman-teman magang saya, yaitu Cenius Sanjaya, David Kristian, Hendry Gozali, Teddy Yudono, dan Wilson Mark, diberi kesempatan untuk menolong menjadi usher dan kolektan di konser orchestra Pdt. Stephen Tong yang dinamakan “Grand Concert Tour 2017”. Konser tersebut diadakan di hotel Best Western, Solo Baru, pada pukul 18.30 WIB. Beberapa Staf YLSA (Tika, Liza, Aji, Kun, Hilda, dan Mei) juga ikut serta dalam pelayanan ini.

Pada hari itu, kami selesai kerja lebih awal, yaitu pukul 15:30 WIB, karena kami harus berangkat pada pukul 16.00 untuk mengikuti briefing pada pkl. 16.30. Setibanya di lokasi acara, kami langsung bergegas makan dan selanjutnya mengikuti briefing. Setelah itu, kami diberi kartu identitas dengan warna tali yang berbeda-beda. Setiap warna tali memiliki titik jaga yang berbeda-beda. Ada yang harus berjaga di lobby, di depan pintu ruangan tempat konser diadakan, hingga di dalam ruangan konser. Saya juga diminta untuk membantu menyiapkan beberapa peralatan konser terlebih dahulu. Peralatan-peralatan tersebut harus diatur dan diletakkan di atas panggung sesuai dengan perintah supervisor kami. Setelah itu, barulah saya bisa bersiap di posisi saya.

Pada pukul 18.30 WIB, konser pun dimulai. Para musisi segera bersiap naik ke atas panggung diikuti oleh Pdt. Stephen Tong sebagai conductor. Sebelum memulai konser, Pdt. Stephen Tong memberikan pengantar bahwa masih banyak orang Indonesia yang kurang menghargai musik, padahal musik adalah sesuatu yang indah dan mahal. Karena alasan itulah, Pdt. Stephen Tong rela mengadakan sebuah Concert Tour secara gratis untuk memperkenalkan keindahan musik kepada orang-orang Indonesia. Beliau bahkan rela mengeluarkan uang untuk membeli peralatan musik yang harganya milyaran rupiah demi kualitas musik yang baik. Setelah itu, konser pun berjalan dengan sangat baik dan lancar. Pdt. Stephen Tong memperkenalkan setiap simfoni yang akan dimainkan sehingga para penonton bisa benar-benar mengenal latar belakang dan sejarahnya. Setelah beberapa simfoni, para penonton dipersilakan untuk memberikan persembahan secara sukarela, saya dan para kolektan lain pun segera menjalankan tugasnya. Setelah selesai persembahan, kami dipersilakan untuk kembali ke ruangan konser untuk menikmati sisa acara konser tersebut. Sisa acara konser diisi dengan persembahan lagu-lagu dari paduan suara yang diiringi musik yang sangat indah selama kurang lebih 30 menit, lalu diakhiri dengan simfoni “Haleluya” dan seluruh penonton berdiri untuk menunjukkan rasa hormatnya.

Walaupun saya bukan penggemar musik orchestra dan ruangan yang digunakan bukanlah ruangan yang terbaik untuk menikmati sebuah konser musik, tetapi saya tetap dapat menikmati konser ini. Saya kagum dengan para musisi yang mampu memainkan setiap alat musik dengan lancar dan sesuai dengan bagian masing-masing. Selain itu, jumlah penonton yang datang banyak sehingga ruangan penuh, bahkan ada penonton yang berdiri. Selama acara konser berlangsung panitia mengumumkan kalau penonton tidak diizinkan untuk mengambil gambar berupa foto dan video ataupun audio. Jika saya diberi kesempatan untuk memberi nilai, saya akan memberi nilai 8/10 untuk konser ini. Selain bisa menikmati permainan musik yang katanya menduduki posisi nomor 4 terbaik di dunia, saya juga bisa belajar mengapresiasi musik-musik berjenis orchestra. Saya berharap tujuan Pdt. Stephen Tong mengadakan Concert Tour ini tercapai, dan orang-orang Indonesia belajar lebih menghargai musik.

Inilah sedikit pengalaman yang bisa saya bagikan. Tuhan Yesus memberkati.

]]>
http://blog.sabda.org/2017/07/31/pengalaman-mengikuti-grand-concert-tour-2017/feed/ 0