Blog SABDA http://blog.sabda.org melayani dengan berbagi Thu, 05 Apr 2018 02:53:27 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.4 Serangan Pasukan Rayap di Griya SABDA http://blog.sabda.org/2018/04/02/serangan-pasukan-rayap-di-griya-sabda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serangan-pasukan-rayap-di-griya-sabda http://blog.sabda.org/2018/04/02/serangan-pasukan-rayap-di-griya-sabda/#comments Mon, 02 Apr 2018 02:35:40 +0000 maskunarti http://blog.sabda.org/?p=8685

Oleh: Maskunarti

Shalom, pembaca setia blog SABDA yang terkasih dalam Kristus!

Pada Jumat, 16 Maret 2018, seusai acara persekutuan doa, seluruh staf SABDA dikejutkan dengan munculnya pasukan rayap yang menyerbu beberapa rak buku di perpustakaan. Kak Elly yang pertama berteriak: "Ada rayap!" sembari menunjukkan foto rayap di beberapa rak buku yang diambil melalui kamera handphone-nya. Hal itu membuat kami terkejut dan panik. Saya bertanya-tanya, "Dari mana ya rayap-rayap tersebut datang?" Kepanikan kami ada alasannya. Ruang training di Griya SABDA (GS) juga merupakan perpustakaan YLSA yang penuh dengan buku. Kalau ada rayap, itu berarti buku-buku tersebut sedang terancam keselamatannya.

Kami pun tidak tinggal diam. Kami langsung bergegas mengecek rak-rak mana saja yang sudah diserbu rayap. Ada beberapa titik di lantai aula SABDA yang sedikit berlubang, bisa jadi itu merupakan celah bagi pasukan rayap untuk datang dan akhirnya memakan buku-buku beserta raknya. Tidak perlu menunggu lama, teman-teman cowok bergegas mengangkat beberapa rak dan buku keluar dari ruangan. Rak dan buku yang terkena serangan pasukan rayap harus segera ditangani supaya tidak menular ke rak dan buku yang masih dalam kondisi baik. Setelah rak dan buku di halaman luar, saya dan teman-teman cewek bergegas membuka buku-buku yang ada satu per satu dan membersihkannya dengan kuas. Untuk itu, kami menyediakan ember-ember yang diisi dengan air, dan semua rayap disapu dimasukkan ke air dalam ember. Saya dan teman-teman yang lain bahu-membahu. Beberapa orang membersihkan rayap di rak dan buku, dan beberapa orang yang lain menyapu ruang training. Tidak lupa, kami juga memakai obat penyemprot rayap untuk membasmi pasukan rayap. Lalu, kami memisahkan antara buku-buku yang kondisinya masih baik dengan buku-buku yang kondisinya sudah termakan rayap. Dan, karena waktu sudah sore, rak-rak buku yang di luar dimasukkan kembali ke dalam ruangan. Bersyukur kami semua bisa mengerjakannya dengan baik sampai sore hari.

"Lega," itulah kata yang terucapkan oleh saya. "Setidaknya, pasukan rayap yang kelihatan sudah berhasil kami basmi," itu pikir saya. Jadi, tugas saya dan teman-teman SABDA tinggal menata ulang buku-buku yang sudah dibersihkan untuk diletakkan kembali di dalam rak buku. Dan, ternyata dugaan saya keliru. Beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis, 22 Maret 2018, ketika kami semua sedang merapikan dan mengategorikan buku-buku yang sudah bersih dari pasukan rayap, ada salah satu teman kami, yaitu Kak Hadi, yang berkata, "Di sini juga ada rayap!" Kami sempat panik, jangan-jangan masih ada pasukan rayap yang tertinggal. Kami semua langsung bergegas melihat ke rak buku tersebut. Dan, puji Tuhan, rak buku dan buku-buku masih dalam kondisi aman, setidaknya kondisinya tidak separah seperti sebelumnya. Teman-teman cowok segera mengeluarkan rak buku tersebut dan membersihkannya. Sama seperti saat pembersihan yang pertama, lantai yang ada disemprot obat rayap ditambah dengan minyak solar, lalu lantai dialasi dengan seng. Lantai dialasi dengan seng supaya dapat mengantisipasi pasukan rayap datang kembali. Sementara itu, rak buku disemprot dengan obat rayap dan buku dibersihkan, dan sebagian yang lembab dijemur. Saya dan teman-teman bahu-membahu dalam membersihkannya. Bersyukur, pembersihan kedua ini tidak separah seperti saat pembersihan yang pertama. Kami bisa jauh lebih cepat membersihkannya karena buku-buku yang terkena pasukan rayap tidak sebanyak seperti pembersihan pertama. Proses pembersihan sudah selesai dan kami tinggal mengembalikan buku-buku dan rak-raknya di tempatnya seperti sediakala. Kesempatan ini kami pakai untuk sekalian menata ulang buku-buku di rak buku.

Koleksi buku yang beraneka ragam di SABDA merupakan "harta" yang harus dirawat karena buku-buku tersebut adalah jendela dunia. Dari buku-buku tersebut, saya dan teman-teman SABDA bisa memperoleh informasi dan belajar banyak hal. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari SABDA. Itu berarti saya juga harus ikut merawat dan menjaga kebersihan perpustakaan. Selain itu, momen bersih-bersih seperti ini menjadikan saya dan teman-teman SABDA lain semakin akrab. Kami bekerja sama dan bahu-membahu. Capek dan kotor sudah pasti, tetapi hal tersebut tidak membuat kami kelelahan yang berlebih karena kami mengerjakannya bersama-sama. Kiranya kita semua bersedia merawat dan menjaga setiap koleksi yang kita miliki. Ayo, budayakan menjaga tempat agar aman dari rayap, mengamati kalau ada tanda-tanda rayap datang, dan bersihkan secepat mungkin sebelum menular ke tempat lain! Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

]]>
http://blog.sabda.org/2018/04/02/serangan-pasukan-rayap-di-griya-sabda/feed/ 0
Roadshow SABDA di Tana Toraja: “Pelayanan Digital untuk Generasi Digital” http://blog.sabda.org/2018/03/26/roadshow-sabda-di-tana-toraja-pelayanan-digital-untuk-generasi-digital/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=roadshow-sabda-di-tana-toraja-pelayanan-digital-untuk-generasi-digital http://blog.sabda.org/2018/03/26/roadshow-sabda-di-tana-toraja-pelayanan-digital-untuk-generasi-digital/#comments Mon, 26 Mar 2018 08:52:35 +0000 Evi http://blog.sabda.org/?p=8672

Oleh: Davida

Sejak 1994, Tuhan telah memimpin YLSA untuk berfokus pada pelayanan digital. Meskipun pada saat itu teknologi digital belum dikenal di Indonesia, bahkan internet pun belum masuk, dengan jelas Tuhan menyatakan kepada pendiri YLSA untuk mulai mempersiapkan bahan-bahan dengan cara mengetik semua bahan mentah yang kami dapatkan dari beberapa mitra, lalu memprosesnya secara digital. Bahan-bahan yang kami ketik pada awal pelayanan YLSA adalah Alkitab dan bahan studi Alkitab. Hal ini mengingatkan saya akan cerita Nuh yang membuat bahtera di daratan. Ketika banjir besar tiba, keluarga Nuh selamat karena perkenanan Tuhan dan karena Nuh taat untuk membuat bahtera walaupun belum melihat awan hujan. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia menolong staf YLSA mula-mula untuk setia dan tekun mengerjakan "proyek masa depan" Tuhan bagi bangsa Indonesia. Ketika teknologi digital akhirnya muncul, YLSA sudah siap dengan bahan-bahan digital untuk diintegrasikan dengan semua bentuk pelayanan digital yang ada hingga saat ini.

Kesaksian di atas saya bagikan untuk membuka sharing saya mengenai pelayanan YLSA dalam Pertemuan Pekerja KIBAID Indonesia di Tana Toraja, 22 Februari 2018. Pada kesempatan itu, tim YLSA (diwakili oleh saya dan Ody)) diundang untuk menyampaikan seminar tentang "Pelayanan Digital" yang dihadiri oleh sekitar 280 hamba Tuhan sinode KIBAID dari seluruh Indonesia. Acara ini adalah acara tahunan sinode KIBAID untuk memperlengkapi hamba Tuhan agar dapat melayani Tuhan dengan lebih baik. Pada kesempatan ini, saya menyampaikan materi "Pelayanan Digital untuk Generasi Digital". Inilah yang menjadi "passion" pelayanan YLSA, yaitu menjangkau generasi yang hidup pada era digital bagi Tuhan. Materi ini juga saya gabung dengan materi +TED @SABDA "Pemuridan untuk Digital Native" dan seminar Ibu Yulia di UPH Surabaya mengenai "Digital Word for Digital World".

Secara garis besar, materi membahas mengenai perkembangan teknologi yang sangat memengaruhi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi tidak hanya melahirkan inovasi-inovasi baru, tetapi juga melahirkan generasi "digital native", yaitu "penduduk asli" era teknologi. Pemerintah dan industri di Indonesia mengetahui bahwa generasi digital native adalah aset utama bagi negara yang ingin maju. Presiden Jokowi tidak henti-hentinya menyerukan agar ekonomi digital dimasukkan sebagai salah satu mata kuliah atau jurusan dalam pendidikan tinggi di Indonesia agar bangsa kita menjadi kuat dalam revolusi industri abad ke-21 ini. Melek teknologi juga harus menjadi perhatian penting dalam pendidikan di Indonesia, mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. Pemerintah tahu benar bahwa melalui pendidikanlah, mereka dapat mengedukasi digital native untuk menggunakan teknologi demi kepentingan bangsa dan negara. Sekarang, pertanyaannya: bagaimana dengan gereja? Apakah saat ini gereja sudah menjadi gereja yang ramah digital native? Apakah saat ini gereja memperlengkapi jemaat untuk menggembalakan/memuridkan digital native agar mereka tahu bagaimana melayani dengan memakai teknologi untuk Kerajaan Allah? Apakah digital native dilibatkan dalam penyusunan program gereja era digital ini? Itulah tantangan yang diberikan kepada seluruh peserta pada saat itu. Jika gereja tidak lebih peduli dibandingkan pemerintah mengenai generasi digital native-nya, gereja harus bersiap kehilangan generasi tersebut! Tentu saja, ini sangat menyedihkan bagi masa depan gereja.

Setelah itu, materi dilanjutkan dengan tugas gereja sebagai alat Tuhan untuk membawa digital native memahami bahwa teknologi berasal dari Tuhan dan harus dipakai terutama untuk kemuliaan Tuhan. Alkitab telah memperlihatkan secara jelas bagaimana teknologi batu dan teknologi papirus dipakai untuk menyebarkan firman Tuhan pada zamannya. Setelah itu, ada mesin cetak Guttenberg yang digunakan untuk mencetak Alkitab. Lalu, pada saat ini, ada teknologi gawai yang harus dipakai untuk kepentingan firman Tuhan. Salah satu cara yang dapat menolong gereja untuk membawa generasi digitalnya menggunakan teknologi untuk Tuhan adalah gerakan #Ayo_PA!. Oleh karena itu, sesi kedua menjadi kesempatan pelatihan bagi hamba-hamba Tuhan yang hadir untuk belajar menggunakan HP mereka untuk melakukan PA dengan metode S.A.B.D.A..

Kami bersyukur karena tidak ada kendala yang berarti selama proses pelatihan tersebut. Satu hari sebelumnya, melalui grup WA yang beranggotakan lebih dari 400 hamba Tuhan KIBAID, panitia menolong kami dengan mengumumkan kepada peserta untuk memasang aplikasi Alkitab, Tafsiran, Kamus, AlkiPEDIA, dan PETA Alkitab pada gawainya masing-masing. Oleh karena itu, ketika harinya tiba, hanya sedikit peserta yang belum sempat memasang aplikasi-aplikasi tersebut. Sebelum pelatihan berlangsung, beberapa peserta juga datang ke booth SABDA untuk dilatih menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut. Tidak sedikit pula yang sudah menggunakannya selama ini, hanya saja mereka belum tahu bagaimana memakainya secara maksimal.

Setelah pelatihan selesai, beberapa peserta mendatangi kami dan memberikan kesaksian bahwa materi ini membuka mata mereka mengenai pelayanan bagi digital native untuk menolong mereka menggunakan gawainya bagi Tuhan. Puji Tuhan, ada satu peserta yang bahkan mendorong seluruh peserta untuk tidak anti terhadap HP yang dibawa ke dalam gereja. Gereja seharusnya berada di depan untuk mendorong jemaat, khususnya digital native, untuk menggunakan HP dengan bijak, terutama untuk belajar firman Tuhan karena ada banyak keuntungan yang didapatkan.

Saya sendiri mendapatkan banyak berkat dari Tuhan melalui pelayanan ini. Selain bisa mudik ke kampung halaman saya, Tana Toraja, saya juga semakin melihat pentingnya melayani tubuh Kristus, baik itu secara organisasi maupun perorangan. Masih banyak hamba Tuhan yang melihat teknologi hanya sebagai alat untuk memudahkan hidup mereka, dan itu tidak ada hubungannya dengan pelayanan dan pertumbuhan rohani. Namun, saya bersyukur karena Tuhan mencerahkan pengurus dan banyak hamba Tuhan sinode KIBAID untuk lebih serius memikirkan dan menindaklanjuti pelayanan digital untuk generasi digital, dimulai dari diri sendiri. Kiranya menjadi berkat bagi Pembaca sekalian pula. Salam IT 4 GOD!

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

]]>
http://blog.sabda.org/2018/03/26/roadshow-sabda-di-tana-toraja-pelayanan-digital-untuk-generasi-digital/feed/ 0
Magang di SABDA — Magang Rasa Staf http://blog.sabda.org/2018/03/10/magang-di-sabda-magang-rasa-staf/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=magang-di-sabda-magang-rasa-staf http://blog.sabda.org/2018/03/10/magang-di-sabda-magang-rasa-staf/#comments Sat, 10 Mar 2018 08:55:51 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8660

Oleh: *Yoel

Perkenalkan, nama saya Yoel Bastian, saya staf magang YLSA dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dari program studi Sastra Inggris. Tidak terasa, selama dua bulan, saya sudah menjalani masa magang di SABDA, yaitu 9 Januari -- 9 Maret 2018. Saya mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sehingga saya bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikannya dengan baik. Magang di SABDA merupakan rencana awal dan kemauan saya sendiri yang hasilnya melebihi ekspektasi saya. Alasan saya memilih magang di SABDA karena dari awal saya memang bertumbuh dalam komunitas pendidikan rohani. Selain itu, jarak kantor SABDA relatif dekat dengan rumah saya. Sebelum ini, saya hanya mengenal SABDA dari salah satu produknya, yaitu Alkitab elektronik di sistem Android. Ketika pertama kali datang ke SABDA, saya agak skeptis karena tempatnya tidak seperti ruang kerja yang saya bayangkan. Kantor SABDA terdiri dari dua bangunan yang saling berhadapan, sebelah barat merupakan kantor lama, dan sebelah timur adalah kantor baru, yang biasa disebut "GS" (Griya SABDA). Rasa skeptis saya berubah menjadi rasa kagum saat mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan SABDA. Begitu banyak publikasi yang dibagi dalam situs-situs khusus, serta Software Alkitab SABDA dan pustakanya yang memang sangat tepat guna untuk masyarakat Kristen.

Pada saat wawancara, Kak Evie memberi syarat bahwa walaupun saya akan ditempatkan dalam tim penerjemah, saya juga akan diberi tugas-tugas lain. Saya menyetujuinya karena saya pikir tugas-tugas tersebut pasti masih berhubungan dengan menulis. Ternyata, jauh lebih luas dari yang saya pikirkan. Tugas-tugas lain yang saya kerjakan antara lain adalah menerjemahkan subtitle video dari The Bible Project, mencari bahan untuk situs-situs, rekaman audio artikel publikasi, aktif dalam Grup Renungan Harian, dan lain-lain. Ini adalah sesuatu yang positif supaya saya dapat mempelajari kemampuan baru. Namun, ironinya, saya jadi tahu ternyata saya tidak menguasai Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Walaupun mengambil jurusan penerjemah, entah mengapa EYD dan tata bahasa Indonesia justru tidak dibahas saat kuliah, mungkin karena mahasiswa dianggap sudah bisa. Solusinya, saya langsung membeli buku EYD dan mempelajarinya. Kendala lain muncul, yaitu saya tidak tahu istilah-istilah khusus tentang kerohanian Kristen dalam bahasa Inggris. Solusinya, saya harus banyak membaca artikel rohani Kristen dalam bahasa Inggris.

Mengenai suasana kerja, tidak seperti dugaan saya, kerja kantoran pasti bisa santai-santai dan sebagainya. Ternyata SABDA berbeda, setiap tugas harus diselesaikan sesuai ketentuan deadline sehingga semua staf fokus bekerja. Jika sudah selesai mengerjakan satu tugas, akan ada tugas baru lagi. Saya tidak membayangkan bahwa ternyata SABDA tidak seperti yang lain, yang stafnya malas-malasan. Atau, seperti suasana kuliah yang santai dan mahasiswa bisa main HP kapan saja. Di SABDA pula, saya temui kelemahan saya ketika bekerja, yaitu harus diperintah dahulu, baru mengerjakan.

Saya juga diberi kesempatan untuk ikut roadshow #Ayo_PA! di Perkantas Alumni, Solo, sebagai sie dokumentasi. Salah satu pelajaran penting adalah ketika menjalankan tugas dalam roadshow, saya harus lebih proaktif. Tidak perlu menunggu orang lain menyuruh saya melakukan ini dan itu jika itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Selain itu, kegiatan lain yang saya ikuti adalah kelas DIK PESTA. Dalam kelas tersebut, saya diajarkan tentang teologi berdasarkan Alkitab.

Saya bersyukur dan merasa bahagia bisa magang di SABDA. Saya berterima kasih kepada semua staf yang menerima saya, yang saya anggap seperti keluarga kedua saya. Terima kasih atas setiap bimbingan, tuntunan, dorongan, teguran, yang membuat saya berkembang menjadi lebih baik. Saya mendapat banyak pelajaran dan kemampuan baru di sini. Saya beruntung bisa merasakan bekerja di dua kantor, bulan pertama di kantor lama dan bulan kedua di kantor baru. Ini menjadikan saya bisa akrab dengan hampir semua staf. Di kantor lama, ada Kak Kun, Kak Elly, dan Kak Pio yang terkadang bercanda supaya suasana tidak tegang. Di kantor baru (GS), ada Kak Ariel dan Kak Indah pada waktu siang, juga Kak Tika dan Kak Ody pada waktu sore. Tentu saja semua staf saling menghormati dan tidak ada "gangs" yang terbentuk. Tidak ada jarak walaupun semua berbeda usianya, semua seperti keluarga sendiri.

Selain staf yang menyenangkan, ada satu hal lagi yang saya dapat dari magang di SABDA, yaitu bertumbuh secara rohani. PA setiap Selasa, Rabu, dan Kamis serta PD setiap Senin dan Jumat membuat saya semakin hari semakin kaya dalam merenungkan firman Tuhan. PA dengan orang lain itu membuat kita semakin kaya karena kita mendapat pandangan baru dari apa yang orang lain dapatkan dari firman. Saya belajar bagaimana benar-benar menggali Alkitab. Persekutuan doa mengajarkan pentingnya berdoa bagi orang lain. Sebelumnya, saya tidak terlalu percaya akan kuasa doa, tetapi melalui PD saya dibukakan pengertian berdoa untuk orang lain.

Magang di SABDA, kita dapat merasakan bagaimana menjadi staf beneran karena sesungguhnya kita diberi beban yang kurang lebih sama dengan staf tetap dan kita dilibatkan dalam seluruh jenis kegiatan yang ada. Banyak pelajaran yang saya dapat dan kembangkan lagi di dunia kerja nanti. Terima kasih YLSA.

]]>
http://blog.sabda.org/2018/03/10/magang-di-sabda-magang-rasa-staf/feed/ 0
PA Perdana di SABDA Membawa Dampak Besar http://blog.sabda.org/2018/03/02/pa-perdana-di-sabda-membawa-dampak-besar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pa-perdana-di-sabda-membawa-dampak-besar http://blog.sabda.org/2018/03/02/pa-perdana-di-sabda-membawa-dampak-besar/#comments Fri, 02 Mar 2018 08:20:03 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8654

Oleh:*Nehemia

Shalom, Perkenalkan nama saya Nehemia Meirardfeldin Krisprianugraha. Saya adalah staf magang dari SMK Bhina Karya, Karanganyar. Puji Tuhan, saya ditempatkan di SABDA, dan sudah berada di SABDA selama beberapa minggu. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman selama di SABDA. Di SABDA, saya belajar banyak hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Di sini, saya tidak hanya belajar bekerja, tetapi belajar bertumbuh secara rohani.

Sebelum mulai bekerja, semua staf melakukan Pendalaman Alkitab (PA). Nah, dari kegiatan ini, kami dapat saling berbagi hasil pembelajaran firman Tuhan. Inilah pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Menurut saya, pengetahuan duniawi penting, tetapi pengetahuan rohani jauh lebih penting. Misalnya, ketika saya sedang ditimpa masalah yang sangat berat, kemampuan duniawi yang saya miliki tidaklah selalu menjadi solusi yang baik untuk mengatasi masalah tersebut. Bahkan, kemungkinan malah bisa semakin memperburuk keadaan. Akan tetapi, jika saya mengatasinya dengan sikap rohani yang benar, yaitu dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, cara ini sangat menolong saya. Selain itu, Yesus tidak hanya menolong anak-anak-Nya dalam kesulitan dan kesesakan, tetapi justru menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Dengan demikian, kita tidak jatuh dalam kematian kekal, tetapi justru beroleh hidup yang kekal bersama Bapa kita di surga.

Saya mulai belajar betapa pentingnya pertumbuhan rohani. Saya akan terus berusaha untuk mencari kebenaran yang sejati, yang ada dalam pribadi Yesus.

Sebelum magang di SABDA, saya jarang membaca Alkitab, selain ketika sedang mazbah keluarga. Namun, di SABDA, saya harus setiap pagi membaca dan merenungkan firman Tuhan walaupun awalnya saya melakukan semuanya itu dengan hati yang berat karena belum terbiasa. Namun, waktu terus berjalan dan saya pun mulai terbiasa dengan hal itu. Hasilnya, kebiasaan buruk yang selama ini berada dalam diri saya mulai hilang. Di satu sisi, saya mulai belajar dan membiasakan diri untuk membaca dan mempelajari firman Tuhan. Bagi saya, hal itu bukan hanya kebiasaan atau rutinitas, melainkan suatu kegiatan yang akan selalu memperbarui diri saya.

Inilah pengalaman perdana yang paling berkesan bagi saya selama magang di SABDA. Di SABDA, saya belajar banyak hal dan mendapatkan saudara-saudari yang baru. Selain itu, saya juga belajar bekerja sama dan mengusahakan kekompakan dalam dunia kerja. Kekompakan sangat dibutuhkan dalam hal ini karena masalah yang berat dapat diselesaikan dengan kerja sama dan kekompakan. Hal itu juga merupakan salah satu pengajaran yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan di tempat lain.

Kiranya cerita saya ini dapat mengingatkan kita semua betapa pentingnya firman Tuhan dalam kehidupan kita. Fiman Tuhan adalah kebenaran yang sejati sampai selama-lamanya. Tuhan memberkati.

]]>
http://blog.sabda.org/2018/03/02/pa-perdana-di-sabda-membawa-dampak-besar/feed/ 0
Pengalaman Mengikuti Pelatihan Bahasa Ibrani http://blog.sabda.org/2018/02/25/pengalaman-mengikuti-pelatihan-bahasa-ibrani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengalaman-mengikuti-pelatihan-bahasa-ibrani http://blog.sabda.org/2018/02/25/pengalaman-mengikuti-pelatihan-bahasa-ibrani/#comments Sun, 25 Feb 2018 02:56:08 +0000 aji http://blog.sabda.org/?p=8641

Oleh: Aji

Mempelajari bahasa asing selalu memberi tantangan tersendiri bagi saya. Terlebih lagi, mempelajari suatu bahasa yang benar-benar baru dan menggunakan alphabet non-Latin. Hal inilah yang saya temui ketika mengikuti pelatihan struktur dasar bahasa Ibrani pada Kamis, 8 Februari 2018. Pelatihan yang digelar di Griya SABDA ini diadakan dalam rangka menunjang bisa Anda baca di Berita YLSA 136. bahasa Ibrani sehingga bisa lebih baik lagi dalam menyunting draf AYT Perjanjian Lama (Selengkapnya mengenai proyek AYT [Alkitab Yang Terbuka] bisa Anda baca di Berita YLSA 136. Seluruh peserta pelatihan ini adalah para editor AYT, yang kebanyakan masih awam dengan struktur dasar bahasa Ibrani.

Pada saat pelatihan dilaksanakan, materi disampaikan oleh Danang Dwi Kristiyanto. Danang adalah salah satu editor AYT yang sudah banyak mempelajari dan menguasai bahasa Ibrani. Pelatihan diawali dengan penjelasan mengenai jenis-jenis alphabet Ibrani yang seluruhnya ada empat jenis , yaitu proto-sinaptic script, Phoenician alphabet, Aramaic alphabet, dan Hebrew alphabet. Dari antara keempat alphabet tersebut, Hebrew alphabet adalah jenis alphabet Ibrani yang banyak digunakan oleh orang Yahudi pada zaman modern. Materi ini diikuti dengan pengenalan huruf-huruf bahasa Ibrani dan cara pelafalannya. Dan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai prefiks (imbuhan awal) dan sufiks (imbuhan akhir) dalam bahasa Ibrani.

Bagian paling menarik dalam pelatihan ini adalah materi yang membahas prefiks dan sufiks oleh karena kompleksitasnya. Prefiks dalam bahasa Ibrani adalah seperti imbuhan me-, di-, pe-, dan ter- dalam bahasa Indonesia. Fungsinya antara lain, untuk membentuk kata depan, kata sambung, atau membentuk kalimat tanya. Contoh-contoh dari prefiks Ibrani adalah "Aleph", "Bet", "Vav", "Yud", "Kaf", "Lamed", "Mem", "Nun", "Shin", dan "Tav". Prefiks jika diimbuhkan pada suatu kata akan mengubah lafal dan maknanya. Misalkan: kata "Judah", jika ditambahkan prefiks "bet", akan dibaca "bihudah" yang berarti "di Yehuda". Di pihak lain, sufiks dalam bahasa Ibrani sejajar dengan akhiran "kan", "lah", "ku", "mu" dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Ibrani, sufiks digunakan untuk membentuk kata sifat, menunjukkan kepemilikan, gender, dan jumlah, serta membentuk kata kerja, khususnya kata kerja yang bersifat lampau (past tense). Salah satu contoh penggunaan sufiks adalah pemberian akhiran pada kata "susan", yang berarti "kuda". Kata "susan", jika diberi akhiran "he", "mim", dan "tav", akan berubah menjadi "susa" (feminim tunggal), "susim" (maskulin jamak), dan "susot" (feminim jamak). Memahami cara kerja prefiks-sufiks sangatlah penting dalam proses editing teks Ibrani supaya perubahan sifat kata yang diakibatkan oleh pemberiaan prefiks-sufiks ini bisa diterjemahkan dengan benar.

Bahasa Ibrani, menurut pandangan saya, merupakan salah satu bahasa yang sangat rumit untuk dipelajari. Selain memiliki gender, bahasa ini memiliki banyak sekali ragam imbuhan yang mengubah makna dan pelafalan. Beberapa kata harus dilafalkan dengan "suara tenggorokan" seperti pelafalan bahasa Perancis; dan beberapa huruf yang sama jika dilafalkan dengan cara pengucapan yang berbeda bisa jadi menghasilkan makna yang berbeda. Namun demikian, bentuk alphabetnya tidak serumit alphabet bahasa-bahasa di kawasan Asia Timur atau Jazirah Arab; kurang lebih sedikit lebih rumit ketimbang alphabet Cyrillic yang bentuk alphabetnya sama-sama kaku.

Saya sendiri bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini karena bisa belajar lagi satu bahasa yang baru. Saya juga semakin mengerti bahwa pemahaman bahasa ini adalah syarat mutlak dalam proses editing draf AYT untuk kitab PL. Walaupun masih banyak hal lagi yang perlu saya pelajari, tetapi paling tidak saya sudah mendapatkan pengantar sebelum mendalami lebih jauh bahasa Ibrani.

Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari bahasa Ibrani, Anda bisa mengakses bahan-bahan yang kami gunakan dalam pelatihan ini melalui tautan berikut:
a. Hebrew Alphabet,
b. Suffixes in Hebrew, dan
c. Prefixes in Hebrew.

Demikian "sharing" dari saya. Kiranya materi yang saya bagikan bisa bermanfaat bagi Anda semua. Doakan pula proyek AYT yang masih terus berjalan: Kiranya seluruh editor AYT diberi hikmat agar bisa menghasilkan teks Alkitab yang setia, jelas, dan relevan bagi generasi zaman ini. Tuhan Yesus memberkati.

]]>
http://blog.sabda.org/2018/02/25/pengalaman-mengikuti-pelatihan-bahasa-ibrani/feed/ 0