Blog SABDA
15Jun/200

Belajar Mengatasi Stres dan Ketakutan

Apakah saat ini Anda mengalami stres dan ketakutan dalam menghadapi pandemi? Apakah Anda mengetahui sebab hal itu terjadi secara ilmiah? Dalam +ED ini, peserta diajak untuk menyimak sebuah video dari Sprouts. Saya akan menjabarkan sedikit isi dari video tersebut. Pernahkah Anda menyadari mengapa Anda bisa mengingat beberapa adegan dalam film? Hal itu disebabkan oleh ingatan yang dipengaruhi emosi. Saat ada yang menang dan kalah dalam pertandingan, perasaan senang dan sedih membuat kita belajar dengan cepat, mendalam, dan banyak. Namun, saat kita takut, otak kita membatasi kemampuan kita untuk berpikir, untuk alasan yang baik.

Contohnya saat kita takut akan suatu ancaman terhadap fisik dan psikologi yang diberikan oleh teman-teman kita kepada kita. Ini akan menyebabkan fungsi otak dan organ memengaruhi perilaku kita. Pertama, kita akan menjadi stres dan agresif, lalu kita akan dihadapkan kepada tiga jalan keluar. Freeze (terdiam), Fight (melawan) atau Flight (kabur). Alasan ini berakar dari teori Polyvagal, yang berasal dari teori evolusi. Kita belajar bahwa ketika kita bertemu binatang buas yang berbahaya, kita lebih memilih terdiam, melawan, atau lari dan sembunyi, untuk menyelamatkan diri kita. Ini bukan bawaan genetika, tetapi respons terhadap sesuatu yang terjadi. Ketika kita menghadapi bahaya, ada bagian dari otak kita, yaitu Amygdala, yang bertugas untuk melindungi kita dan menyelamatkan kita. Untuk bertindak cepat itu menahan kita dari berpikir dengan kreatif dan kritis. Tekanan tinggi memicu respons yang sama.

Dalam satu percobaan, seorang pria diberikan waktu untuk bermain gim. Saat perlombaan dimulai, pria itu ingin sekali menang. Ketika peneliti kemudian melihat hasil pemindaian otak, mereka melihat aktivitas yang sedikit. Faktanya, pria itu hampir tidak menggunakan otaknya sama sekali dan mereka tentu tidak ingat banyak. Kemudian, peneliti mengulangi percobaan. Kali ini, mereka tidak memainkan gim, melainkan menempatkan pria tersebut duduk di samping pengemudi. Alih-alih fokus untuk menang, mereka fokus akan banyak hal: perilaku mengemudi, trek balap, dan mobil lain. Kali ini, otaknya menunjukkan banyak aktivitas. Proses belajar terjadi dan ingatan diciptakan. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa ketika kita panik pada ujian matematika atau penjual takut tidak mencapai target penjualannya, menjadikan visi kita menjadi semakin kecil dan pembelajaran kita dibatasi sehingga kita tidak dapat menentukan jalan menuju kesuksesan. Ketika kita panik, kita dapat menenangkan diri dengan cara menarik napas secara perlahan dan mengeluarkannya dalam hitungan satu sampai lima.

Secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa stres dan ketakutan sangat berbahaya untuk kinerja otak, maka kita perlu menenangkan pikiran kita untuk bisa memandang sesuatu dengan jelas dan baik. Apalagi jika Anda adalah seorang pemimpin, perlu adanya kemampuan untuk melihat dengan jelas untuk dapat menentukan keputusan yang tepat agar bisa mengarahkan anggota Anda untuk melakukan tujuan-tujuan yang harus dicapai selanjutnya. Mari tinggalkan ketakutan kita dengan menyerahkannya kepada Tuhan dan memulai cara berpikir yang baru dan fleksibel agar kita bisa menempuh visi yang kita impikan.

Tentang Rode

Rode Pardede telah menulis 4 artikel di blog ini..

Cetak tulisan ini Cetak tulisan ini
Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment

Connect with Facebook

No trackbacks yet.

© 2009-2020 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Laporan Masalah dan Saran