Blog SABDA
2Aug/190

PA: Dropping Your Guard

Mulai Juli 2019, staf SABDA melakukan Pendalaman Alkitab (PA) dengan menggunakan buku berjudul “Dropping Your Guard” karya Charles R. Swindoll. PA ini bertujuan agar orang-orang Kristen dapat mengenali dan melepaskan segala ketakutan, kekhawatiran, zona nyaman, kebiasaan, serta hal-hal yang membuat mereka sulit bertumbuh, yang dalam buku itu disebut sebagai topeng (mask). Menurut saya, ini adalah materi PA yang pas untuk kami. Pekerjaan setiap hari dan hal-hal rutin yang kita lakukan sering berdampak pada pola pikir dan kebiasaan sehingga kita “stuck” pada zona nyaman. Buku ini diharapkan akan kembali melecut kami untuk mau maju dan tidak terus berada di zona nyaman (dengan kata lain, berani melepas topeng-topeng).

Model PA yang dilakukan kali ini berbeda dari yang biasa kita lakukan. Biasanya, setiap Selasa — Kamis, kami langsung berkumpul dalam kelompok untuk ber-PA. Pembagian materi buku ini menolong kami untuk lebih kreatif. Buku itu dibagi dalam 13 bab, dan masing-masing bab akan diselesaikan dalam 1 minggu, total akan selesai selama 13 minggu. Setiap bab diawali dengan penjelasan materi, lalu diberikan dua bahan diskusi. Jadi, setiap Selasa, salah seorang staf akan memberikan presentasi di kelompok besar tentang isi bab yang menjadi materi utama minggu itu. Lalu, Rabu dan Kamis akan kami pakai untuk membahas bahan diskusi di kelompok kecil. Saya sendiri mendapat bagian untuk mempresentasikan Bab 2, yang berjudul “Digging Deeper, Risking Change (2)”, yang memberi begitu banyak pelajaran bagi saya pribadi. Berikut adalah hal yang saya dapatkan dari bab kedua buku ini.

Digging Deeper, Risking Change (Menggali Lebih Dalam, Mempertaruhkan Perubahan), adalah bab yang menjadi awal untuk melucuti topeng selubung perlindungan kita. Perlindungan dari topeng apa? Topeng dari risiko untuk mengalami perubahan dan ketidakpastian dalam bertumbuh dan mengikuti kehendak Allah. Sebagai manusia yang memiliki “nature of habit“, atau makhluk yang suka dengan rutinitas atau kebiasaan, kita tidak suka berubah dan menghadapi ketidakpastian masa depan. Padahal, untuk bertumbuh, kita mesti keluar dari zona nyaman, kebiasaan, dan rutinitas, menuju zona yang belum kita ketahui di depan, tetapi yang Tuhan janjikan untuk pertumbuhan dan kedewasaan iman. Sebagai analogi dari persoalan ini adalah kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju ke tanah perjanjian yang sudah disiapkan oleh Tuhan.

Untuk mendewasakan mereka, Allah memberikan lima tes yang akan melucuti topeng-topeng pertahanan mereka agar lebih percaya dan bergantung kepada Allah. Lima tes yang Allah berikan itu adalah: kejutan yang tidak biasa, ketakutan yang tidak diinginkan, kesulitan yang tidak nyaman, tuduhan yang tidak adil, perlawanan yang tidak diharapkan, masing-masing dalam bentuk kesusahan dan pergumulan, yang membuat mereka tergoda untuk kembali ke Mesir. Seperti yang kita ketahui, bangsa Israel gagal dalam semua tes itu. Dan, seperti mereka, kita juga sulit untuk taat, percaya, dan berharap penuh kepada Allah saat menghadapi aneka kesulitan dan pergumulan hidup. Kita lebih suka kembali ke zona nyaman kita, dibanding untuk terus melangkah maju pada tujuan yang Allah tetapkan bagi kita.

Namun, meski dihantam dengan berbagai kesulitan dan kesusahan, bahkan hukuman keras dari Allah, bangsa Israel akhirnya bisa melangkah maju dan tidak kembali ke tanah Mesir. Hal tersebut disebabkan karena lima faktor yang juga Allah sediakan, yaitu: arahan yang jelas dari Allah, dilepaskan secara luar biasa dari kesulitan, kelegaan pada waktu yang tepat dari kesesakan, pertahanan yang kuat dari dalam untuk bertahan, serta disiplin yang keras dari Allah. Dengan senantiasa berjalan dan mengalami kuasa Allah dalam perjalanannya menuju tanah Kanaan, bangsa Israel tetap dapat bergerak maju dan tidak mundur. Demikian juga dengan kita. Seberat apa pun fase hidup atau situasi pergumulan yang sudah, sedang, atau akan kita hadapi, kita tidak perlu gentar atau menjadi mundur, sebab Allah bersama kita. Jika Dia sudah berkehendak mengarahkan kita pada jalan atau tujuan yang dikehendaki-Nya, kita boleh yakin dan percaya bahwa Dia akan menyertai kita untuk sampai pada tujuan.

Agar kita tidak terus terjebak pada zona nyaman dan kebiasaan yang membuat kita tidak bertumbuh, kita mesti bersedia untuk memberikan respons berikut kepada Allah, yaitu:

  1. Meminta Allah untuk menguatkan keunikan-Nya dalam diri kita agar kita dapat menyampaikan pesan-Nya yang unik bagi dunia.
  2. Meminta Allah untuk meningkatkan risiko yang harus kita hadapi untuk semakin menumbuhkan iman percaya dan kemuliaan kepada-Nya.
  3. Menyediakan diri untuk dipakai sebagai alat-Nya, dan agar Dia memperbesar perubahan yang kita buat.

Bagi saya, membaca dan mempersiapkan materi dari buku “Dropping Your Guard” sebagai bahan PA tentu membawa pelajaran tersendiri. Seperti halnya bangsa Israel, saya selalu sulit untuk “move on” dan berkecil hati ketika menghadapi tantangan atau kesulitan di depan. Seringnya, dan bahkan hampir tiap kali, saya ingin mundur atau berdiam saja di zona nyaman saat menghadapi risiko, tanpa menyadari bahwa ada Allah yang besar yang akan membantu dan memampukan saya. Bagian yang paling membuat saya menghela napas ketika membaca buku ini adalah pada bagian untuk meminta kepada Allah agar meningkatkan risiko yang harus kita hadapi. Bagian itu, teman-teman, kita harus menyampaikan doa kita dengan nyali besar, plus kesiapan penuh untuk menerima jawaban-Nya.

Okti

Tentang Okti

Okti Nur Risanti telah menulis 25 artikel di blog ini..

Cetak tulisan ini Cetak tulisan ini
Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment

Connect with Facebook

No trackbacks yet.

© 2009-2015 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Laporan Masalah dan Saran