Oleh: Dewi

Halo, Sahabat SABDA, bertemu kembali dengan saya, Dewi Jatirahayu Sitorus, melalui blog kali ini. Puji syukur kepada Tuhan Yesus yang terus membimbing kita dalam perjalanan rohani kita pada era digital ini. Pada Jumat, 27 Maret 2026, saya berkesempatan mengikuti Forum Diskusi Teologi: Studi Alkitab Digital yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom pukul 10.00 – 11.30 WIB.

Pengalaman mengikuti acara ini begitu membuka mata dan hati saya bahwa teknologi digital bisa menjadi alat ampuh dalam pelayanan. Salah satunya, teknologi bisa dipakai untuk melakukan studi Alkitab, yang fondasinya tetap bertumpu pada kebenaran firman Tuhan yang kekal. Forum ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan ruang refleksi mendalam yang mengajak puluhan peserta, baik dari kalangan pendeta, mahasiswa teologi, hingga orang awam untuk merenungkan tantangan dan peluang pada zaman sekarang.

Saya juga belajar mengenai studi Alkitab klasik yang didefinisikan sebagai pendekatan yang berakar pada sejarah panjang umat Allah dan tradisi gereja yang teruji berabad-abad. Tujuannya membentuk iman, karakter, dan ketaatan melalui tiga pilar fondasi teologis, yaitu Orientasi Alkitab, Spiritualitas penafsir, dan Tradisi Gereja. Secara praktis, ini berarti mempelajari Alkitab dengan bahan biblika dalam format cetak, dengan cara dibaca dan diteliti secara manual tanpa ketergantungan teknologi. Forum ini menekankan bahwa meski era digital tidak bisa dihindari, fondasi ini tidak boleh berubah, seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 3:16-17.

Sebaliknya, studi Alkitab digital melibatkan bahan dan alat digital, seperti software Alkitab, situs Alkitab, dan aplikasi-aplikasi penunjang studi Alkitab. Nah, untuk studi Alkitab, biasanya yang kita lakukan seputar mencari teks, menelusuri latar belakang/konteks, korelasi ayat, yang tentunya menolong kita untuk berinteraksi lebih mendalam dengan firman Tuhan. Studi Alkitab digital juga memiliki banyak manfaat. Kita bisa mendapatkan banyak bahan biblika untuk mendukung studi Alkitab kita.

Penting dicatat juga bahwa studi Alkitab digital ini bukan sekadar Alkitab di HP atau membaca di layar teknologi canggih, melainkan perkembangan cara akses Alkitab yang lebih luas dan efisien. Oh ya, jika kita tidak bijaksana dalam menggunakan alat-alat digital, pasti kita tidak akan maksimal dalam belajar Alkitab. Sebagai contoh, kebiasaan copas yang bisa menimbulkan rasa malas belajar, tidak mau baca Alkitab sehingga berisiko salah tafsir, kecenderungan ambil ayat tunggal tanpa konteks besar Alkitab, dll.. Jadi, kita mungkin merasa sudah belajar, padahal kita hanya mencari, membaca tafsiran, dan terkadang itu pun dilakukan dengan terburu-buru.

Kiranya sharing saya melalui blog ini dapat menjadi berkat bagi Sahabat SABDA semua. Yuk, kita manfaatkan alat-alat digital untuk melakukan studi Alkitab dengan bertanggung jawab! Baca juga yuk blog-blog yang lainnya supaya Sahabat SABDA makin mengenal pelayanan SABDA. Mari terus berjalan dan melayani bersama Tuhan dalam kasih dan kebenaran-Nya. Tuhan Yesus memberkati!