Shalom Sahabat SABDA! Belum lama ini, saya mengikuti seminar Kepemimpinan Kristen pada Era AI dengan narasumber Dr. Ricky S.E. M.R.E., dosen dan koordinator mata kuliah kepemimpinan digital di UK Petra. Seminar ini membuka wawasan saya tentang bagaimana AI berkembang pesat dan memengaruhi banyak bidang seperti pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan gereja.

Pak Ricky memaparkan bahwa AI dapat melakukan banyak hal: membuat outline khotbah, menganalisis konsentrasi siswa lewat pengenalan wajah, hingga menjadi “teman ngobrol” yang mengenali kebiasaan kita. Namun, di balik kehebatannya, ada risiko besar seperti disinformasi, kehilangan pekerjaan, penyalahgunaan privasi, dan hilangnya interaksi manusia yang tulus.

Salah satu bagian yang paling mengena adalah ketika beliau mengutip khotbah Billy Graham di TED Talk 1998 tentang tiga masalah yang tidak dapat diselesaikan teknologi apa pun: kejahatan (evil), penderitaan (suffering), dan kematian (death). AI bisa membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat mengubah hati manusia.

Sebagai pemimpin Kristen, tugas kita pada era AI tetap sama, yaitu menolong orang mengenal Kristus, menemukan panggilan hidupnya, dan bertumbuh dalam Tuhan. AI hanyalah alat, kita harus menempatkan Tuhan di atas segalanya, menjaga kekudusan, membangun relasi yang tulus, dan memastikan pekerjaan kita memiliki unsur empati dan kasih yang tak tergantikan oleh mesin.

Saya mendapatkan hal baru, yaitu memanfaatkan AI untuk kemuliaan Tuhan, bukan menggantikan peran yang hanya bisa dijalankan manusia yang dipimpin Roh Kudus. AI mungkin cerdas, tetapi hanya hikmat dari Tuhan yang memberi hidup kekal. Jika Sahabat SABDA ingin menyaksikan video lengkap seminar ini, silakan mengunjungi situs SABDA Live. Terima kasih. Salam AI-4-GOD!