Blog SABDA http://blog.sabda.org melayani dengan berbagi Mon, 13 Aug 2018 04:34:16 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.4 Diskusi Buku “Pencobaan” di Klub Buku SABDA http://blog.sabda.org/2018/08/13/diskusi-buku-pencobaan-di-klub-buku-sabda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=diskusi-buku-pencobaan-di-klub-buku-sabda http://blog.sabda.org/2018/08/13/diskusi-buku-pencobaan-di-klub-buku-sabda/#comments Mon, 13 Aug 2018 04:32:10 +0000 Santi http://blog.sabda.org/?p=8946

Oleh: Santi

Di tengah-tengah kesibukan tim SABDA mengerjakan proyek Alkitab Yang Terbuka (AYT), tim Penjangkauan YLSA membuka diskusi buku pada pertengahan semester I lalu. Buku "Pencobaan" karya John Owen yang diterbitkan oleh Momentum menjadi bahan diskusi di Klub e-Buku SABDA periode Juni-Juli 2018. Dengan 32 peserta dan seorang moderator, diskusi KBS bisa berlangsung dengan lancar dan dinamika diskusi cukup menarik. Tidak hanya menjawab pertanyaan atau mendiskusikan isi buku, tetapi peserta juga menyelipkan pengalaman atau kesaksian pribadi terkait topik yang sedang dibahas. Inilah yang membuat diskusi menjadi hidup dan berkesan. Oh ya, jangan hanya saya yang memberi kesan, teman-teman yang lain juga ada yang mau memberi kesan atau kesaksian lho. Ini dia ....

Juni Liem:
Mau lebih banyak menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan dan berdoa. Karena sering kali di tengah kelelahan, firman Tuhan dan doa diabaikan dan memilih tidur.

Pertanyaan yang diberikan oleh moderator, membuat saya belajar untuk berpikir lebih kritis dan merenung karena tidak semua pertanyaan berasal dari buku. Dan, saya pun banyak belajar dari komentar teman-teman yang lain.

Suratman Aripin:
Aplikasi yang saya lakukan setelah mengikuti diskusi ini: belajar mencari titik lemah saya, membawanya dalam doa, dan tidak menyepelekan titik awal kejatuhan saya. Jadi, saya harus lebih berhati-hati (berjaga-jaga). Kesaksian saya selama mengikuti diskusi ini: saya sungguh bersyukur walaupun sebelumnya saya pernah membaca buku ini secara pribadi, tetapi melalui diskusi ini saya semakin dipertajam pemahamannya, khususnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh moderator dan juga masukan dari rekan-rekan lainnya. Sekali lagi, terima kasih diskusi ini sungguh bermanfaat bagi saya. Dan, terus kembangkan pelayanan ini.

Puji Arya Yanti:
Buku ini membawa saya untuk mengamini sekali lagi bahwa tetap berjaga-jaga dan berdoa adalah perlengkapan untuk mengadapi pencobaan.

Kesan selama diskusi: Tidak semua jawaban pertanyaan mengacu buku, tetapi berasal dari pendapat peserta dan itu semakin memperkaya isi buku ini. Terima kasih untuk peran aktif moderator dan teman-teman diskusi, dan mohon maaf saya sering terlambat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Terima kasih.

DanceYefrason Faah:
Ada hal-hal baru yang saya dapatkan dalam diskusi kali ini. Dan, hal-hal itulah yang saya pakai untuk kekuatan saya. Pokoknya sangat membantu saya dalam pertumbuhan/proses menjadi murid Kristus. Luar Biasa. Doa dan harapan saya, semoga Tuhan selalu memberkati semua tim YLSA agar selalu menjadi saluran berkat bagi orang lain. Amin!

Prilian Abet Nego:
Diskusi ini menolong saya memahami tentang pencobaan yang sangat berbahaya bagi kehidupan rohani. Saya harus bisa menyadari potensi pencobaan yang hadir. Kemudian, terus menyadari kelemahan yang sering membawa jatuh ke dalam pencobaan. Setiap pencobaan harus dilawan. Setiap waktu harus berdoa dan berjaga-jaga agar kuat menghadapi pencobaan. Terima kasih sudah bisa berdiskusi bersama, menambah wawasan, dan saling menguatkan.

Arief Kristianto:
Melalui diskusi ini, saya mendapat berkat kembali diingatkan untuk terus mendekat kepada Tuhan karena pencobaan (yang ternyata sangat berbahaya) selalu akan kita hadapi. Hanya dengan kekuatan dari Tuhanlah, kita bisa mengatasi semua pencobaan. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah aktif berdiskusi. Tuhan memberkati kita semua.

Romauli Boru Marpaung:
Aplikasi bagi saya sendiri adalah saya bisa mengetahui kapan saat pencobaan itu mulai ada, dan bagaimana cara saya bisa menghadapinya. Kesannya, saya bisa lebih berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Saya juga bisa memperlengkapi diri saat dengan siap melalui doa untuk menang menghadapi segala pencobaan jikalau Tuhan izinkan itu terjadi.

Sebagai penutup, ingatlah kutipan pendek ini, yang saya ambil dari buku "Pencobaan" karya John Owen, "Bertindak sesuai panggilan Yesus merupakan satu-satunya jalan yang telah Allah tetapkan untuk menjaga Anda agar tidak masuk ke dalam pencobaan dan jatuh ke dalam dosa." Doa saya, diskusi buku ini bisa menjadi berkat bagi peserta, terutama untuk mendorong mereka semakin dekat dengan Tuhan dan peka akan kehendak-Nya. Sekian kesaksian saya dan teman-teman dari Klub e-Buku SABDA tentang diskusi buku kali ini. Selamat melayani, Tuhan Yesus memberkati. :)

]]>
http://blog.sabda.org/2018/08/13/diskusi-buku-pencobaan-di-klub-buku-sabda/feed/ 0
Hasil Belajar: “Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital” http://blog.sabda.org/2018/08/06/hasil-belajar-tantangan-mendidik-anak-pada-era-digital/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hasil-belajar-tantangan-mendidik-anak-pada-era-digital http://blog.sabda.org/2018/08/06/hasil-belajar-tantangan-mendidik-anak-pada-era-digital/#comments Mon, 06 Aug 2018 07:05:23 +0000 Santi http://blog.sabda.org/?p=8939

Oleh: Santi

"Teladan berbicara lebih kuat daripada ribuan kalimat." Pesan ini masih membekas dalam hati saya, dan memang harus diakui bahwa hal ini benar. Baik sebagai orang tua, guru, maupun pemerhati anak, pesan ini berlaku bagi kita semua dalam mendidik anak-anak. Akan sangat tidak bijaksana jika kita menuntut anak untuk melakukan ini-itu atau melarangnya berbuat ini-itu, tetapi kita, sebagai orang tua, malah melakukannya, bahkan di depan mereka. Oops, sebelum saya lebih menggebu-gebu lagi melanjutkan topik ini, saya akan menceritakan latar belakang di balik tulisan saya ini ... tenang saja, tidak akan panjang kok. :)

Sabtu, 28 Juli 2018, saya dan Ody hadir di seminar parenting "Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital" di Graha Anugrah, Surakarta. Seminar dimulai pukul 08.30 WIB yang dibuka dengan menyanyikan lagu pujian dan doa pembukaan, lalu dilanjutkan dengan pembahasan topik seminar oleh Ibu Vik. Mercy Matakupan, S.Th. selaku pembicara seminar. Beliau adalah seorang guru sekolah minggu dan pelayan Tuhan yang aktif dalam bidang parenting. Seminar ini terbagi menjadi 2 sesi; sesi 1 untuk mengenal generasi digital dan sesi 2 membahas tantangan mendidik anak pada era digital. Selama penyampaian materi, Ibu Mercy selalu menggunakan contoh-contoh nyata yang pernah beliau alami/temui ketika mengajar sekolah minggu ataupun mendidik anaknya.

Lanjut ke topik lagi ya. :) Mendidik anak pada era digital tidak mudah, ada banyak tantangan. Namun, orang tua/guru SM jangan melihat tantangan dari sisi era digitalnya saja, tetapi perlu disadari bahwa pada dasarnya kita adalah orang berdosa, dan anak kita juga orang yang berdosa. Kita tidak bisa mendidik dan menolong anak kita sendirian, kita perlu pertolongan Tuhan. Bahkan, sebelum kita menuntut anak-anak kita, Tuhan akan mengubahkan kita terlebih dahulu. Tujuan Tuhan bukan menjadikan kita orang tua yang berbahagia, tetapi menjadikan kita serupa dengan Kristus.

Sejak dahulu, esensi dosa adalah sama (tidak suka Tuhan, tidak taat, tidak suka firman Tuhan), tetapi kemasannya berbeda-beda. Pada era digital ini, kemasan dosa sangat menarik, bahkan sampai membuat anak-anak kecanduan. Mulai dari film, iklan, lagu, permainan, sampai musik, memberikan hiburan bagi anak-anak dan menjadi cara dunia merampas hati mereka. Lebih parahnya lagi, semuanya ini tidak menjadi hiburan belaka, tetapi menjadi sebuah budaya -- budaya hiburan, pop culture. Dalam mendidik anak, orang tua harus menyadari bahwa anak yang mereka didik saat ini merupakan bagian dari generasi yang lebih suka hiburan daripada didikan; generasi yang lebih suka menonton daripada mendengarkan; generasi yang cepat puas, cepat bosan, tidak suka proses, egois; dan generasi menunduk (karena selalu melihat smartphone). Ini adalah suatu peperangan rohani yang harus kita sadari. Secara tidak langsung, ada penghancuran karakter, moral, iman, melalui berbagai hal yang ditawarkan dunia ini, khususnya melalui hiburan dan kenyamanan yang disajikan. Karena itu, mendidik anak adalah suatu peperangan rohani. Lalu, bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak pada era digital?

1. Orang tua mengisi kebutuhan rohani anak.
2. Mengembalikan sistem nilai yang rusak.
3. Menjadi teladan.
4. Disiplin dalam kasih dan konsistensi.
5. Mencari waktu terbaik untuk berbicara dengan anak.
6. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial/bersama.

Ingat! Kita tidak bisa mengerjakannya sendirian. Kita memerlukan pertolongan Tuhan dan harus rela mengajarkan kebenaran kepada anak secara berulang-ulang (Ulangan 6:6-9). Pelajaran penting yang saya peroleh adalah orang tua harus memiliki visi dan meminta belas kasih kepada Tuhan supaya ketika mendidik anak-anak, orang tua tahu ke mana akan membawa mereka bertumbuh. Kiranya tulisan ini menjadi berkat bagi kita semua. Terpujilah nama Tuhan.

]]>
http://blog.sabda.org/2018/08/06/hasil-belajar-tantangan-mendidik-anak-pada-era-digital/feed/ 0
Hasil Belajar dari SPIK: “You Are What You Love” http://blog.sabda.org/2018/08/03/hasil-belajar-dari-spik-you-are-what-you-love/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hasil-belajar-dari-spik-you-are-what-you-love http://blog.sabda.org/2018/08/03/hasil-belajar-dari-spik-you-are-what-you-love/#comments Fri, 03 Aug 2018 02:47:27 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8929

Oleh: *Yunike

Pada 23 Juli 2018, saya bersyukur karena mendapat kesempatan dari Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) untuk mengikuti Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) dengan tema “You Are What You Love” di Adhiwangsa Hotel, Solo, oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Awalnya, saya tidak begitu berminat untuk mengikuti seminar. Namun, setelah saya pikir-pikir, mungkin akan ada hal baru yang bisa saya dapatkan dari sana. Sekitar pukul 17.30 WIB, saya berangkat bersama staf SABDA yang lain. Sebelum seminar dimulai, panitia memberi kesempatan untuk peserta menikmati snack yang sudah disediakan. :)

Sekitar pukul 19.00 WIB, acara seminar dimulai oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Beliau membuka sesi dengan menjelaskan poin-poin apa saja yang akan dibahas selama sesi, yaitu sifat atau natur manusia, dan tugas manusia maupun tugas gereja. Selama sesi, saya merasa bahwa beliau menyampaikan materi terlalu cepat. Pada awalnya, apa yang disampaikan beliau mengenai sifat dan natur manusia dapat saya pahami. Tujuan manusia ketika diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berbicara tentang tugas manusia, sesuai yang tertulis dalam Kejadian 1:26. Yang pertama adalah memelihara ciptaan lain (dominion), lalu yang kedua adalah beranak cucu dan penuhilah bumi (reproduksi). Tuhan ingin manusia menjadi representasi Allah yang berkuasa atas seluruh bumi, menaklukkan bumi bagi Tuhan. Sebagai "image of God", ada dua kecenderungan dalam manusia berelasi, yaitu sebagai makhluk rasional dan emosional. Sebagai makhluk rasional, manusia pasti tahu alasan mereka menjalankan banyak hal. Beliau memberi contoh kepada peserta, jika diberi pilihan untuk makan nasi setiap hari atau pop corn, manusia pasti akan memilih nasi karena kebutuhan gizi dari nasi lebih diperlukan. Sebagai makhluk emosional, beliau mengaitkan dengan musik. Tanpa mengetahui tangga nada, keteraturannya, maupun struktur musik, manusia tetap dapat menikmati musik. “As long as it feels good,” begitulah beliau mengungkapkan filosofi manusia tentang musik.

Pada bagian selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa manusia tidak hanya makhluk rasional dan emosional, tetapi manusia juga adalah makhluk yang mencintai. Yang menggerakkan manusia melakukan sesuatu bukan hanya apa yang diketahui dan dirasakan, tetapi juga apa yang dicintai. Orang percaya tahu bahwa berdoa, membaca firman Tuhan, dan saat teduh adalah penting. Namun, kalau tidak mencintai Allah, manusia tidak akan melakukannya atau akan melakukan, tetapi dengan terpaksa. Beliau menjelaskan ketika Yesus mulai mencari murid-Nya, Dia berkata dalam versi bahasa Inggris, “What do you want?” Ketika Petrus menyangkal Yesus, dan Yesus kembali bertemu dengan Petrus, Yesus tidak bertanya apakah kamu menyesal, tetapi Yesus bertanya, "Apakah kamu mengasihi-Ku, Petrus?" Ketika Petrus sadar bahwa dia mengasihi Tuhan lebih dari apa yang dimiliki bahkan hidupnya, dia rela melakukan perintah Tuhan hingga mati disalib terbalik. Beliau mengutip Amsal 4:23 yang menjelaskan bahwa kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh hati, di mana hartamu berada (berkaitan dengan mengikut Yesus), di situ pula hati kita juga berada.

Beliau juga menjelaskan, love dan feeling adalah dua hal yang berbeda. Feeling ada saatnya naik dan turun, sedangkan love akan konstan naik. Love adalah habit, sesuatu yang selalu kita lakukan tanpa sadar. Membangun suatu habit (kebiasaan), yaitu dengan belajar dan berlatih. Selain latihan, hal lain yang memengaruhi habit adalah liturgi atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang memengaruhi kita tanpa sadar. Tugas gereja adalah mengerjakan liturgi yang membawa nilai-nilai yang berbeda dari dunia.

Dalam perjalanan kembali ke mess, saya kembali merefleksikan apa yang telah disampaikan melalui seminar tadi. Satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya adalah “Di mana hati saya berada saat ini? Apakah saya akan sangat bersedih ketika saya kehilangan hadirat Tuhan?” Memang sulit untuk terus berkomitmen dan melekatkan hati kita hanya kepada Tuhan. Namun, seperti yang dikatakan Vik. Heru Lin, terus belajar dan berlatih adalah kunci untuk membangun habit atau kebiasaan untuk mencintai Tuhan lebih dari apa pun. Saya bersyukur karena melalui Roh Kudus-Nya, Tuhan mendorong saya untuk mengikuti seminar ini karena ada hal baru yang saya peroleh, yang dapat membuat saya mengerti bahwa "saya adalah apa yang saya cintai".

]]>
http://blog.sabda.org/2018/08/03/hasil-belajar-dari-spik-you-are-what-you-love/feed/ 0
SABDA dalam Kegiatan Bible Fellowship di Yayasan Berita Hidup http://blog.sabda.org/2018/07/16/sabda-dalam-kegiatan-bible-fellowship-di-yayasan-berita-hidup/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sabda-dalam-kegiatan-bible-fellowship-di-yayasan-berita-hidup http://blog.sabda.org/2018/07/16/sabda-dalam-kegiatan-bible-fellowship-di-yayasan-berita-hidup/#comments Mon, 16 Jul 2018 02:36:49 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8869

Oleh: *Agatha

Shalom,

Suatu kebanggaan tersendiri, khususnya bagi saya, karena diberi kesempatan untuk menulis blog ini. Jika ada peribahasa mengatakan "tak kenal, maka tak sayang", izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Agatha Ria Budiyana, saya adalah staf magang di Yayasan Lembaga SABDA. Saya ingin membagikan pengalaman pertama saya ketika mengikuti roadshow SABDA pada acara Bible Fellowship di STT Berita Hidup. Pada hari kedua magang, Kak Evi mengajak saya untuk mengikuti acara 'briefing' mendadak. Awalnya, saya bingung, kemudian Kak Evi menjelaskan bahwa SABDA akan roadshow di STT Berita Hidup, yaitu untuk mengajar anak-anak sekolah minggu, remaja-pemuda, serta guru sekolah minggu tentang bagaimana belajar Alkitab dengan menggunakan gadget. Saya belum pernah mengikuti roadshow SABDA sehingga saya tidak ada gambaran bagaimana acara tersebut dilakukan. Untung ada rekan-rekan staf SABDA lain yang menolong saya. Kami pergi berenam, yaitu saya, Steven (staf magang juga), Kak Evi, Kak Tika, Kak Kun, serta Kak Ariel.

Sehari sebelum roadshow, kami melakukan berbagai persiapan, mulai dari persiapan bahan materi, cara penyampaian materi, serta alat-alat yang akan dibawa untuk acara nanti. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu saya, Steven, dan Kak Evi masuk ke kelas guru sekolah minggu. Kak Kun dan Kak Ariel masuk ke kelas remaja-pemuda, lalu Kak Tika dibantu oleh Oci ke kelas anak sekolah minggu. Saat hari roadshow tiba, yaitu pada Jumat, 13 Juli 2018, saya, Steven, dan Kak Evi datang lebih awal untuk menyiapkan booth SABDA di dekat tempat anak-anak beribadah. Kami menata traktat-traktat untuk anak-anak, CD-CD Alkitab audio, dan brosur-brosur pelayanan YLSA. Menariknya, anak-anak sangat tertarik dengan traktat Tuhan Yesus Menyelamatkanmu. Mungkin karena traktat tersebut memiliki banyak gambar. Ceritanya juga menarik, yaitu tentang bagaimana kita, walaupun masih anak-anak sudah penuh dengan dosa. Puji Tuhan, Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Mereka antusias melihat traktat itu. Saya dan Steven juga mendapatkan pengalaman yang berkesan saat membantu anak-anak menginstal aplikasi SABDA (Alkitab, Kamus, Tafsiran, AlkiPEDIA, dan Peta) ke dalam HP mereka. Kami dapat melakukannya dengan baik walaupun menghadapi beberapa kesulitan, misalnya ketika ada HP yang tidak memiliki aplikasi SHAREit dan tidak memiliki paket data. Kalau memakai bluetooth instalasi, akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebenarnya, ada Wi-Fi di lokasi STT Berita Hidup, tetapi entah kenapa Wi-Fi-nya kurang bersahabat. Kesulitan lain adalah ketika memori HP penuh saat diinstal. Itu semua merupakan pengalaman yang mengesankan bagi saya.

Ketika acara pelatihan dimulai, teman kami, Oci, tidak bisa hadir karena ada urusan yang perlu diselesaikan di kampus. Nah, hal itu mengubah posisi saya yang awalnya berada di zona agak nyaman, yaitu di kelompok guru sekolah minggu, harus pindah ke kelompok anak-anak sekolah minggu. Pada awalnya, saya sedih karena saya tidak punya persiapan apa pun untuk menghadapi anak-anak sekolah minggu. Namun, akhirnya, saya bisa maju mendampingi Kak Tika untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Anak-anak sekolah minggu yang imut-imut mulai masuk ke dalam ruangan dengan sangat ribut. Namun, puji Tuhan, ketika Kak Tika mulai menyampaikan materi, mereka bisa duduk diam mendengarkan apa yang disampaikan oleh Kak Tika. Kak Tika menceritakan kepada anak-anak sekolah minggu bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, dan manfaat firman Tuhan menurut 2 Timotius 3:16 ada empat, yaitu untuk mengajar, memperbaiki kelakuan, menyatakan kesalahan, serta mendidik orang dalam kebenaran. Beberapa anak antusias ketika ditanya, "Siapa yang belum dapat traktat?" Banyak anak yang mengacungkan jarinya, dan saya membantu Kak Tika untuk memberikan traktat tersebut kepada anak-anak. Saya sangat senang melihat mereka yang sudah mendapatkan traktat langsung membacanya dan ingin tahu apa isinya. Mereka terlihat sangat serius dan tenang ketika membaca isi traktat tersebut. Itulah pengalaman saya ketika mengikuti roadshow di STT Berita Hidup, walaupun sebenarnya masih banyak pengalaman lain yang tidak dapat saya tuliskan semua di sini.

Melalui kegiatan roadshow SABDA pada acara Bible Fellowship di STT Berita Hidup ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran. Pertama, saya belajar untuk sabar ketika mencoba membantu anak-anak dalam menginstal aplikasi SABDA dengan berbagai macam kondisi HP. Kedua, saya belajar untuk mencari akal bagaimana caranya agar aplikasi SABDA dapat terinstal di kondisi HP yang kurang mendukung. Ketiga, bersikap fleksibel terhadap situasi yang berubah. Kiranya melalui roadshow SABDA ini, banyak anak-anak serta para guru sekolah minggu terberkati dengan adanya aplikasi Alkitab SABDA di HP mereka masing-masing. Tuhan Yesus memberkati.

]]>
http://blog.sabda.org/2018/07/16/sabda-dalam-kegiatan-bible-fellowship-di-yayasan-berita-hidup/feed/ 1
Raker Mini YLSA 2018 — Melayani dan Mengasihi Lebih Sungguh http://blog.sabda.org/2018/07/10/raker-mini-ylsa-2018-melayani-dan-mengasihi-lebih-sungguh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=raker-mini-ylsa-2018-melayani-dan-mengasihi-lebih-sungguh http://blog.sabda.org/2018/07/10/raker-mini-ylsa-2018-melayani-dan-mengasihi-lebih-sungguh/#comments Tue, 10 Jul 2018 02:47:54 +0000 Penulis Tamu http://blog.sabda.org/?p=8907

Oleh: Markus

Setelah mengawali Juni 2018 dengan kegiatan piknik ke Kedung Ombo, awal Juli seluruh staf SABDA mempersiapkan dengan sungguh-sungguh rapat kerja (raker) mini 2018. Suasana piknik sepertinya membawa kesegaran bagi semua staf untuk mempersiapkan raker. Seluruh staf, termasuk saya, bahu-membahu menyusun laporan kerja sepanjang semester I 2018 dengan kompak. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Yulia, raker seharusnya menjadi sukacita kami bersama karena dapat melihat dan memetik buah-buah pelayanan SABDA yang dikerjakan selama satu semester kemarin. Raker mini YLSA, yang diadakan pada 2 — 3 Juli 2018 ini adalah raker mini pertama yang saya ikuti sejak menjadi staf di SABDA. Yang istimewa, raker kali ini juga dihadiri oleh Bapak Tjahjadi selaku Badan Pembina YLSA.

Hari I: 2 Juli 2017: Laporan dan Rencana Kerja: Tim ITS, IT4GOD, PAS, AYT, Proyek Komik dan Video Tetelestai

Raker hari pertama dibuka dengan makan nasi kuning plus lauk-pauknya, yang menurut beberapa staf beda dari menu raker biasanya. Sebelum memulai raker, moderator menyampaikan gambaran singkat isi raker hari I, yaitu laporan dan rencana dari tim ITS, IT4GOD, PAS, AYT, dan Komik. Selama raker berjalan, seluruh staf harus aktif memberi pertanyaan atau komentar kepada presenter. Hal ini akan sangat berguna sekali, khususnya karena hari I akan diisi dengan banyak laporan dan penjelasan proyek baru yang YLSA kerjakan.

Untuk membuka raker, Pak Tjahjadi, sebagai ketua Badan Pembina, memberikan kata-kata penyemangat kepada kami. Pak Tjahjadi merasa bangga karena YLSA mengerjakan pekerjaan yang bernilai kekal. Sebagai staf YLSA, meskipun terdiri dari orang-orang biasa, kita dapat turut ambil bagian melakukan pekerjaan yang bernilai kekal dalam kesementaraan kita. Apalagi jika melihat buah-buah pelayanan YLSA yang telah banyak dipakai mulai dari orang desa sampai orang kota dari seluruh Indonesia. Pak Tjahjadi mengutip Kolose 3:23 bahwa YLSA mengerjakan pekerjaan Tuhan, suatu anugerah yang patut disyukuri. Oleh sebab itu, Pak Tjahjadi merasa terbeban untuk turut ambil bagian dalam karya pelayanan YLSA. Beliau sebenarnya sudah tahu apa yang dikerjakan SABDA sejak lama, tetapi baru saat ini beliau melihat momen yang tepat untuk terlibat secara langsung, yaitu dalam pengerjaan proyek Bible Engine. Mendengar kabar baik ini, kami sungguh berlimpah dengan sukacita.

Laporan hari pertama difokuskan untuk proyek-proyek seputar Alkitab. Kualitas diskusi raker semakin mengasyikkan karena kami melihat potensi-potensi di bidang teknologi yang dapat dikembangkan dalam pelayanan YLSA. Satu per satu anggota tim ITS melaporkan dengan antusias perkembangan proyek tim ITS. Kami juga ikut melihat bagaimana Tuhan bekerja lewat kursus "IT4GOD" yang dilakukan oleh Bapak Jeffrey Liem untuk anak-anak dan remaja di Tanjung Pinang. Setelah itu, ada laporan dari proyek khusus ITL Builder dan aplikasi Alkitab SABDA untuk bahasa India. Puji Tuhan! Dari laporan ini, saya melihat bahwa dari Indonesia, Tuhan bergerak untuk memberi pengaruh ke negara-negara lain untuk memakai teknologi menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan.

Perkembangan teknologi membawa YLSA untuk melangkah lebih maju dengan strategi-strategi baru, yang tidak saja mengedepankan bahan-bahan teks, tetapi menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sekarang. Apa itu? Eiit, tunggu tanggal mainnya. Puji syukur, strategi-strategi baru ini semakin membuat kami semangat, terutama menyaksikan laporan dari tim IT4GOD, PAS, dan AYT, yang semuanya menunjukkan bagaimana Allah sungguh bekerja melalui proyek-proyek ini. Terlebih proyek AYT yang sebentar lagi mendekati proses akhir tahap 5. Raker hari I ditutup dengan laporan dan rencana kerja proyek-proyek baru, yaitu komik-komik Alkitab dan video Tetelestai. Meskipun kami melihat banyaknya panenan yang dituai, kami juga menyadari adanya kebutuhan penuai-penuai yang lebih banyak lagi. Jadi, dukunglah dan doakan kami terus, ya!

Hari II: 3 Juli 2018: Laporan dan Rencana Kerja: Tim Multimedia, Penjangkauan, Pembinaan, Pendidikan Kristen, dan Administrasi

Pada hari II ini, Pak Jeffrey membuka raker dengan memberikan renungan yang diambil dari Efesus 2:10. Seperti yang juga disampaikan oleh Pak Tjahjadi, sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus, kita tidak saja menikmati keselamatan. Ada pekerjaan mulia yang dapat kita lakukan untuk Allah. Hal ini karena rasa syukur kita kepada Allah sehingga kita bekerja bagi-Nya. Pelayanan YLSA merupakan anugerah, sebab staf YLSA dapat melayani semata-mata karena kasih Tuhan. Oleh sebab itu, Pak Jeffrey mengingatkan supaya kita semakin tekun bekerja bagi Allah. Bapak Jeffrey menambahkan bahwa di dunia IT ada namanya 'continous learning', yaitu terus belajar supaya tidak ketinggalan perkembangan teknologi. Itu berarti setiap staf YLSA harus terus belajar, belajar bagaimana mengembangkan dan memajukan pekerjaan Tuhan.

Laporan hari II dimulai dari tim Multimedia yang akan menjadi salah satu fokus pelayanan YLSA. Jalur-jalur baru seperti komik menjadi andalan YLSA pada semester II. Di sisi lain, kami mengakui masih ada hambatan untuk menerapkan "media first" di YLSA karena keterbatasan sumber daya manusia. Akan tetapi, dengan semangat baru, masing-masing tim berusaha membantu tim multimedia untuk maju bersama. Syukur kepada Tuhan, kami melihat proyek-proyek multimedia tidak harus dikerjakan oleh tim multimedia sendiri, karena setiap tim akan ambil tugas multimedia sehingga tim multimedia akan lebih kuat. Laporan dilanjutkan oleh tim Penjangkauan, Pembinaan, dan Pendidikan Kristen. Masing-masing tim ini sepakat untuk mengembangkan publikasi lewat jalur aplikasi, seperti yang sudah tersedia di apps Publikasi SABDA.

Akhirnya, acara raker ditutup dengan kesaksian yang diambil Ibu Yulia dari hasil menyunting buku The Great Mission. Renungan ini mendorong saya untuk tetap bersemangat dalam melayani dan mengasihi Tuhan sebesar apa pun tantangan yang harus saya hadapi. Kami pun menutup raker dengan membuat lingkaran sambil menyanyikan "Melayani, Melayani Lebih Sungguh". Harapan saya, seluruh staf, volunter, mitra, donatur, sahabat, dan pendukung YLSA mengaminkan lagu tadi. Mari kita giat melayani karena Tuhan telah lebih dahulu melayani kita. Mari kita bersatu hati berseru TGBTG (to God be the glory)! Segala kemuliaan bagi Tuhan!

]]>
http://blog.sabda.org/2018/07/10/raker-mini-ylsa-2018-melayani-dan-mengasihi-lebih-sungguh/feed/ 0