Blog SABDA
7Oct/163

NOBAR @SABDA

Karena padatnya kegiatan bulan Agustus sehingga membuat beberapa acara sempat tertunda, termasuk acara Nobar (nonton bareng). Sebelumnya, saya mengira acara bakal dibatalkan, tetapi ternyata tiba-tiba ada pengumuman waktu PD Senin (29/8) kalau nanti siang akan ada “nobar” serial Flash Point.

Awalnya, Bu Yulia memberikan sedikit pengantar tentang film yang akan kami tonton tersebut. Bu Yulia menceritakan tentang bagaimana cara kerja tim yang dilakukan oleh SRU dalam menangani sebuah kasus yang mereka terima. Semboyan Tim SRU adalah “Keep Peace”, dalam arti bagaimanapun kondisi yang mereka hadapi mereka harus melakukan dengan jalan yang terbaik, terutama jangan sampai melakukan pembunuhan.

Dalam cerita serial Flash Point ini sangat terkait dengan keadaan anak muda saat ini. Film ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Billy yang pandai sekali melukis dan memiliki kepribadian yang unik. Serial kali ini juga memberikan tambahan mengenai bagaimana SRU menyelesaikan sebuah kasus yang mereka terima dari para pelapor. Permasalahan terjadi ketika Billy ini di-bully oleh Scott dan teman-temannya saat membela Ella, teman perempuan di kelas lukisnya. Oh ya, Ella juga sering mendapat perlakuan kasar dari Scott, pacarnya. Dari kejadian tersebut, Billy mengalami perlakuan yang memalukan dan direkam oleh salah satu dari mereka, bahkan rekaman ini disebarkan oleh teman-teman Scott. Peristiwa ini membuat Billy semakin tertekan dan sakit hati karena rekaman ini diterima oleh semua orang di sekolah tersebut. Dari kekesalan hatinya, Billy lalu mengambil langkah balas dendam. Dari sanalah, kisah dimulai dengan banyak adegan dan teka-teki yang mengarahkan penonton untuk menebak akhir dari cerita ini.

Billy lalu mengambil pistol di rumahnya. Dari adegan itu, saya mengetahui kalau kehidupan Billy sangat kacau dan kesepian seperti yang tergambar di lukisannya. Setelah dia mendapatkan pistol, dengan perasaan tertekan, dia mencari orang-orang yang menyakitinya untuk melakukan pembalasan. Dia memasuki suatu kelas, kelas Geografi, dan mencari si pelaku, tetapi justru dari tempat inilah awal dari kesalahan fatalnya. Billy melakukan penembakan di kelas itu, dan kepanikan pun terjadi. Pihak sekolah memanggil Strategic Response Unit (SRU) untuk menangani kasus tersebut, dan tim SRU mulai mempersiapkan apa yang akan mereka lakukan di tempat kejadian.

Saat tim SRU akan beraksi, pemutaran film dihentikan dan staf diberi pertanyaan tentang apa yang kira-kira akan dilakukan oleh tim SRU ini dalam memecahkan kasus penembakan yang terjadi di kelas Geografi. Kami pun berlomba menebak apa yang akan dilakukan jika kita semua menjadi pemimpin SRU. Syarat yang paling utama dalam tim SRU adalah mengutamakan komunikasi dan mengatur strategi dengan cepat, dengan mencari informasi dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam cerita kali ini, mereka bekerja sama dengan penjaga keamanan sekolah.

Apa yang mereka kerjakan sangatlah sistematis dan canggih sekali. Bahkan, saya membayangkan kalau saja itu terjadi di Indonesia, hmmm pasti seru deh. Akhir dari cerita ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Awalnya, saya mengira Billy ini pasti akan membunuh si pelaku, tetapi ternyata dia bisa dibujuk oleh Ella sehingga mau meletakkan pistol. Akan tetapi, karena kecerobohan seorang petugas keamanan, yang mengira anaknya (Toni) sudah ditembak oleh Billy, Billy justru ditembak olehnya. Billy langsung dievakuasi oleh tim SRU sehingga ia tidak meninggal. Akan tetapi, pemimpin SRU sangat sedih karena dia merasa gagal dalam menyelesaikan kasus kali ini. Dia pun berterima kasih kepada Ella yang melakukan tugasnya dengan baik ketika membujuk Billy, sebab tugas itu seharusnya dilakukan oleh tim SRU.

Setelah selesai menonton film ini, hal yang kami lakukan adalah berbagi pelajaran yang telah kami dapatkan dari film ini. Semua staf berbagi kesan tentang cerita, bahkan tokoh-tokoh dalam film ini. Ada yang berkesan dengan bagaimana tim SRU menangani/menyelesaikan suatu kasus, ada juga yang belajar tentang bagaimana mengatur semua tim untuk bisa bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Saya belajar dua hal dari cerita kali ini. Satu, jika kita salah berkata atau bertindak, pastilah kita akan mendapatkan akibat dari apa yang seharusnya kita tanggung, seperti yang terjadi di film ini. Kedua, saya belajar dari Ella yang berani mengambil tindakan yang benar tanpa melihat keadaan yang mungkin bisa membahayakan nyawanya ataupun orang di sekitarnya. Pelajaran kedua ini memberi saya kesan mendalam bahwa saya memerlukan hikmat Tuhan yang akan menolong saya dalam segala kondisi dan keadaan.

Menonton film dengan cerita yang sedikit “sad ending”, tetapi membawa pesan yang dalam ini, menjadi salah satu agenda yang sering dilakukan karena selain kami nobar juga belajar dari apa yang kita tonton. Semoga film-film berikutnya juga akan membawa pesan yang berguna.

Tentang indah

margareta indah telah menulis 3 artikel di blog ini..

Cetak tulisan ini Cetak tulisan ini
Comments (3) Trackbacks (0)
  1. Jadi Pingin nonton film

  2. Sebuah film yang memberikan pelajaran. Dalam mengambil keputusan tidak boleh gegabah dan hikmat Tuhan diperlukan …. Jadi ingin melihat film ini. : )

  3. Sepertinya film yang menarik untuk di tonton ….jadi pengen nonton juga
    Yuupp…setuju dengan pernyataan bahwa hikmat Allah diperlukan dalam segala kondisi… Jbu


Leave a comment

Connect with Facebook

(required)

 

No trackbacks yet.

© 2009-2015 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Laporan Masalah dan Saran