Blog SABDA
24Jul/150

Nonton Bareng Film CSI: “Silent Night”

Oleh:Hossiana*

Pada bulan Juli 2015 yang lalu, saya dan teman-teman kerja di SABDA nonton bareng sebuah film di Griya SABDA [link]. Awalnya, saya mengira akan menonton film tentang Yesus atau film-film motivasi yang berbau kristiani. Ternyata, kami menonton sebuah film serial, yaitu CSI New York. CSI adalah singkatan dari Crime Scene Investigation. Judul seri CSI NY yang kami tonton hari itu adalah “Silent Night”.

CSI NY adalah sebuah serial drama televisi yang berasal dari Amerika. Drama ini menceritakan seluk-beluk investigasi tim forensik Departemen Kepolisian New York ketika mengungkap peristiwa di balik kematian korban yang misterius dan tidak lazim. Dalam episode yang saya tonton kala itu, ada dua kasus yang sedang diinvestigasi, yaitu kematian seorang perempuan muda bernama Alison dan seorang gadis pemain ice skating, Mackenzie.

Pada kasus pertama, diceritakan bahwa Alison ditemukan sudah tak bernyawa dan berlumuran darah dengan luka tembakan di perutnya. Tim CSI kemudian datang dan menyelidiki kasus tersebut. Mereka mencoba mengorek informasi sebanyak-banyaknya dan menginterogasi ibu Alison, Marlee Matlin, sebagai saksi mata. Ternyata Marlee — dan seluruh anggota keluarganya — adalah keluarga tuli dan susah berbicara sehingga membutuhkan seorang penerjemah yang bisa berbicara dengan bahasa tubuh. Akhirnya, setelah diselidiki lebih lanjut, diketahui bahwa Alison meninggal karena ditembak oleh bekas kekasihya. Awalnya, mereka bertengkar tentang masalah anak mereka yang lahir di luar nikah. Karena terbakar emosi, bekas kekasih Alison ini mengarahkan pistol ke Alison untuk mengancam, tetapi keadaan menjadi malapetaka karena Alison justru tertembak.

Kasus kedua menceritakan tentang seorang pemain “ice skating” bernama Mackenzie, yang ditemukan meninggal dan tergeletak di dekat tempat duduk penonton tempat ia berlatih skating. Ternyata kematiannya disebabkan karena “ketidaksengajaan”. Seorang ahli fisika bernama Tom Howard sudah lama mengamati Mackenzie ketika berlatih skating. Tom tahu bahwa Mackenzie skater yang berbakat tetapi selalu gagal ketika melakukan gerakan memutar. Tom, dengan formula fisikanya, dapat menemukan kesalahan yang dilakukan Machenzie. Karena gemas, Tom menemui Mackenzie untuk memberitahu kesalahan tersebut dan berharap Mackenzie sukses melakukan gerakan dengan benar. Sayang sekali ketika ditemui, Mackenzie bersikap cuek dan angkuh, seakan tidak menginginkan bantuan Tom. Tom berusaha keras menjelaskan rumusnya dengan menggambarnya di lantai es skating. Benda tajam yang dipakai Tom untuk menggambar tanpa sengaja menusuk Mackenzie ketika terjatuh karena Tom dengan emosi menarik tangan gadis itu untuk memaksanya melihat rumus yang ia buat di lantai es.

Itulah sedikit gambaran yang bisa saya berikan ketika menonton film CSI. Sama sekali tidak berbau kristiani, tetapi ada banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dari film tersebut. Kasus-kasus kematian yang terjadi tidak mungkin dapat diungkap jika tidak ada tim forensik yang solid, yang saling bekerja sama mencari penyebab kematian korban. Selain itu, saya juga belajar bahwa kesalahpahaman yang tidak dibicarakan secara baik-baik menyebabkan emosi yang tidak terkendali dan mengakibatkan hal yang fatal. Padahal jika dibicarakan secara baik-baik, hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari. Tetapi ya … Namanya juga film, kurang greget jika tidak didramatisir. 😀

Saya memiliki harapan, semoga untuk ke depannya kita bisa mengadakan “nobar” lagi seperti ini dengan film-film yang lebih menarik, yang juga mengandung pelajaran yang bermakna untuk hidup yang lebih bijaksana. 🙂

Tentang Penulis Tamu

telah menulis 117 artikel di blog ini..

Cetak tulisan ini Cetak tulisan ini
Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment

Connect with Facebook

No trackbacks yet.

© 2009-2015 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Laporan Masalah dan Saran