Blog SABDA
11Mar/150

Pelajaran dari Sesi 2: Seminar “Menjadi Manusia Bintang Lima”

Pelajaran dari Sesi 2 yang saya dapat dari seminar “Menjadi Manusia Bintang Lima” yang disampaikan oleh Bapak Andrias Harefa adalah:

Kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi bintang di langit. Namun demikian, kita harus tetap menyerahkan setiap langkah hidup kita kepada Tuhan karena kita adalah milik-Nya.

Bicara tentang bintang, Pak Andrias menunjukkan ada dua macam bintang:

1. Bintang Jatuh: Lucifer

Bintang jatuh yang dimaksud adalah si Lucifer. Ketika ia ingin menyamai Allah yang Mahatinggi dan menolak menyembah Yesus, maka ia diusir dari surga dan dijatuhkan ke bumi.

2. Bintang Pembawa Majus

Bintang ini adalah bintang yang berada di langit, yang menuntun orang majus mencari bayi Yesus. Orang majus adalah orang yang cerdas secara ilmu pengetahuan, tetapi kecerdasan mereka tidak dapat menolong mereka menemukan Tuhan Allah. Hanya dengan wahyu khusus, mereka dapat berjumpa dengan Allah secara pribadi dan bersedia menyembah Yesus. Sebaliknya, para imam kepala dan ahli Taurat sudah mendapatkan wahyu khusus, tetapi mereka tidak mau datang untuk menyembah Yesus.

Dalam sesi kedua ini, disampaikan lima kebiasaan yang harus dilakukan untuk menjadi “manusia bintang lima”. Lima kebiasaan tersebut tidak lain adalah lima langkah yang dilakukan untuk memahami firman Tuhan (Alkitab), karena Firman Tuhanlah yang membuat kita menjadi manusia bintang lima. Lima kebiasaan tersebut adalah:

  • Membaca dan merenungkan firman Tuhan.
  • Belajar dan mengerti firman Tuhan.
  • Melakukan dan menerapkan firman Tuhan.
  • Membagikan firman Tuhan kepada orang lain.
  • Mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

Agar para peserta yang hadir mudah mengingat kelima kebiasaan tersebut, Pak Andrias mengajak para peserta untuk memperagakan kelima kebiasaan tersebut.  Anda dapat melihat gerakan tersebut di Youtube.

Saya secara pribadi sangat disegarkan dengan mengikuti seminar seri “Revolusi Hati” ini. Isinya cukup menyentak hati dan memberi semangat kepada saya untuk kembali bertekad (baca: merevolusi hati) mengejar hadirat Allah dan tinggal dalam kebenaran-Nya serta berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

Sungguh, hanya dengan pertolongan Roh Kudus, saya dapat memahami firman Tuhan dan mencerna dengan baik, lalu mengaplikasikannya selangkah demi selangkah. Saya harus mengawalinya dengan komitmen untuk berdisiplin membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu. Kalau di tengah-tengah pembacaan mungkin saya jenuh, Pak Andrias menguatkan dengan mengatakan bahwa itu biasa, tetapi yang penting adalah saya harus terus bertahan. Bahkan, kalaupun saya tidak memahami maksud ayat-ayat Alkitab yang saya baca, saya harus tetap membacanya. Sementara itu, saya harus minta Roh Kudus menerangi pikiran dan hati saya untuk mengerti maksudnya. Saya setuju. Seberapa yang saya pahami saya lakukan dan bagikan kepada orang lain. Pak Andrias juga menyarankan agar kita melakukannya dalam kelompok supaya lebih bersemangat. Lalu, bersama-sama dengan anggota kelompok kita saling membangun kelima kebiasaan itu. Jadi, bukan hanya satu orang yang boleh menjadi “manusia bintang lima”. Semakin banyak, semakin baik. Nama Tuhan dimuliakan!

Ini adalah kali kedua saya berjumpa dengan Pak Andrias Harefa. Beliau adalah seorang yang ramah dan hangat. Dengan keramahan dan keakrabannya, Pak Andrias Harefa menyampaikan materi dengan baik, dan berkenan untuk foto bersama saya. Hmm … kesempatan yang langka, bukan? Menurut saya, beliau adalah salah satu figur bapak yang menyenangkan. Kiranya Pak Andrias Harefa semakin dipakai dan dikenan Tuhan Yesus untuk menjadi alat-Nya yang efektif menjangkau hati-hati yang haus dan lapar akan firman Tuhan. Amin!

Setya

Tentang Setya

Sri Setyawati telah menulis 18 artikel di blog ini..

Cetak tulisan ini Cetak tulisan ini
Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment

Connect with Facebook

No trackbacks yet.

© 2009-2015 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati

Laporan Masalah dan Saran